Kalian ada yang udah pernah nonton film Kiamat Sudah Dekat? Filmnya menceritakan tentang tiga orang pria yang naksir sama anak gadis pak Haji. Mereka bertiga berusaha keras untuk bisa menaklukkan hatinya. Namun semua pria itu akhirnya gagal karena ada satu ilmu yang gagal mereka pelajari. Ilmu Ikhlas.
Saya sendiri sebenernya belum pernah nonton film itu. Tapi film Kiamat Sudah Dekat pernah dijadikan sebuah perumpamaan oleh seseorang untuk mengingatkan saya bahwa hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup adalah ikhlas. Seseorang ini.. temen bukan.. keluarga bukan.. tapi dia pernah sangat familier dalam hidup saya. Hmm, coba kita sebut saja dia J. Kebetulan si J ini lagi apes aja dengerin ocehan panjang kali lebar kali tinggi dari saya ketika beberapa waktu lalu rumah tangga saya sedang dilanda badai. Kronologis gonjang ganjing rumah tangganya sih saya nggak bisa share tentunya. Karena sebenernya bukan itu juga sih tujuan saya menulis ini. Intinya, nggak lama setelah kita romantis-romantisan anniversary, keadaan mendadak kaya gelas kebalik aja gitu, indahnya tumpah semua.
Lewat perumpamaan film itu, si J mengingatkan bahwa saya sudah mengambil langkah besar untuk mulai berumah tangga, maka sudah seharusnya saya mulai mempelajari ilmu ikhlas. Dengan memiliki ilmu ikhlas, saya akan lebih ringan memaknai dan menjalani hidup. Jujur, dari kata-kata sesimpel itu, saya yang niatnya udah kepengen pisah rumah sama suami, langsung jadi mikir. Argumen saya yang rasanya begitu kuat tentang A sampai Z mengapa saya rasa pernikahan ini berat, langsung dipatahkan dengan argumen dia yang bilang saya belum ikhlas menjalani pilihan saya, makanya semua jadi berat. Damn. How can he become so wise after all this time?
Sebagai tambahan, si J juga bilang saya harus senantiasa menjadi air. Kalau pasangan sudah jadi batu, saya nggak boleh ikut jadi batu. Saya harus jadi air. Air memang tidak berbentuk sehingga kelihatannya tidak keras, tapi air itu juga bisa berbahaya. Air bisa mengikis batu yang keras, bisa merapuhkan kayu, bisa rembes ke tembok. Air bisa masuk ke celah-celah. Dengan ketenangannya, air bisa mengalahkan segala yang keras. Semua hanya perkara waktu. Ketika kata-kata ini keluar dari mulutnya, mendadak saya menangis. Saya merasa saya udah terlalu banyak ditimpa masalah, sehingga saya menjadi orang yang terlalu defensif dan keras. Kenyataannya, hal yang selama ini saya rasa benar, dengan menjadi keras, bukanlah solusi untuk bisa awet membina rumah tangga.
Well, lewat tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada si J. Saya tau suatu saat dia pasti akan mampir ke sini untuk baca-baca. Entah besok, seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi atau sewindu lagi. Makasih ya kamu sudah tumbuh jadi orang yang begitu dewasa tanpa menghilangkan esensi dalam dirimu yang selalu jadi favoritku. Makasih udah berbagi sisi objektif untuk perempuan penuh drama ini. Semoga juga tulisan ini akan senantiasa jadi pengingat ketika kelak saya mulai defensif lagi atau ketika kelak ada prahara baru lagi dalam hidup. 💓
Saya sendiri sebenernya belum pernah nonton film itu. Tapi film Kiamat Sudah Dekat pernah dijadikan sebuah perumpamaan oleh seseorang untuk mengingatkan saya bahwa hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup adalah ikhlas. Seseorang ini.. temen bukan.. keluarga bukan.. tapi dia pernah sangat familier dalam hidup saya. Hmm, coba kita sebut saja dia J. Kebetulan si J ini lagi apes aja dengerin ocehan panjang kali lebar kali tinggi dari saya ketika beberapa waktu lalu rumah tangga saya sedang dilanda badai. Kronologis gonjang ganjing rumah tangganya sih saya nggak bisa share tentunya. Karena sebenernya bukan itu juga sih tujuan saya menulis ini. Intinya, nggak lama setelah kita romantis-romantisan anniversary, keadaan mendadak kaya gelas kebalik aja gitu, indahnya tumpah semua.
Lewat perumpamaan film itu, si J mengingatkan bahwa saya sudah mengambil langkah besar untuk mulai berumah tangga, maka sudah seharusnya saya mulai mempelajari ilmu ikhlas. Dengan memiliki ilmu ikhlas, saya akan lebih ringan memaknai dan menjalani hidup. Jujur, dari kata-kata sesimpel itu, saya yang niatnya udah kepengen pisah rumah sama suami, langsung jadi mikir. Argumen saya yang rasanya begitu kuat tentang A sampai Z mengapa saya rasa pernikahan ini berat, langsung dipatahkan dengan argumen dia yang bilang saya belum ikhlas menjalani pilihan saya, makanya semua jadi berat. Damn. How can he become so wise after all this time?
Sebagai tambahan, si J juga bilang saya harus senantiasa menjadi air. Kalau pasangan sudah jadi batu, saya nggak boleh ikut jadi batu. Saya harus jadi air. Air memang tidak berbentuk sehingga kelihatannya tidak keras, tapi air itu juga bisa berbahaya. Air bisa mengikis batu yang keras, bisa merapuhkan kayu, bisa rembes ke tembok. Air bisa masuk ke celah-celah. Dengan ketenangannya, air bisa mengalahkan segala yang keras. Semua hanya perkara waktu. Ketika kata-kata ini keluar dari mulutnya, mendadak saya menangis. Saya merasa saya udah terlalu banyak ditimpa masalah, sehingga saya menjadi orang yang terlalu defensif dan keras. Kenyataannya, hal yang selama ini saya rasa benar, dengan menjadi keras, bukanlah solusi untuk bisa awet membina rumah tangga.
Well, lewat tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada si J. Saya tau suatu saat dia pasti akan mampir ke sini untuk baca-baca. Entah besok, seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi atau sewindu lagi. Makasih ya kamu sudah tumbuh jadi orang yang begitu dewasa tanpa menghilangkan esensi dalam dirimu yang selalu jadi favoritku. Makasih udah berbagi sisi objektif untuk perempuan penuh drama ini. Semoga juga tulisan ini akan senantiasa jadi pengingat ketika kelak saya mulai defensif lagi atau ketika kelak ada prahara baru lagi dalam hidup. 💓
No comments:
Post a Comment