Monday, March 23, 2020

Coronavirus: Worldwidely Contagious

Hai penghuni dunia maya yang sedang -dipaksa pemerintah untuk- berdiam di rumah.

Hari ini saya nggak mau ngomong ngalor ngidul. Mau ngomong yang fakta-fakta aja, gimana? Jarang-jarang kan. Hehehe.

Paruh awal tahun 2020 diwarnai dengan begitu banyak musibah. Rasanya belum lepas dari ingatan, bagaimana banjir melumpuhkan sebagian wilayah Indonesia tepat di malam tahun baru. Sekarang muncul lagi musibah baru berupa virus yang telah menginfeksi sekitar 162 negara di dunia, termasuk negara kita. Sebuah virus bernama Corona atau nama ilmiahnya COVID-19, atau sering juga disebut SARS Cov-2, adalah virus yang menyerang saluran pernafasan. Virus ini pertama kali terdengar gaungnya pada akhir tahun lalu dari sebuah kota di Cina yang bernama Wuhan. Proses penyebarannya sungguh cepat sekali. Tidak hanya ke seluruh Cina tapi juga ke seluruh dunia. Sampai detik saya menulis blog ini, data terbaru di Indonesia ada 579 kasus, 49 meninggal dan 30 sembuh. Kamu bisa cek update kasusnya di Worldmeter (bisa klik di sini). 


Sumber : Google

Berdasarkan hasil kepo saya di internet, tertulis bahwa virus Corona termasuk jenis virus zoonosis, yang artinya virus ini ditularkan antara hewan dan manusia. Jadi, bisa aja penularan awalnya terjadi karena kontak antara hewan yang terinfeksi dengan manusia, lalu manusia menularkan ke manusia lain saat sedang berdekatan. Mirip dengan kasus yang juga sempat hits pada masanya, SARS dan MERS, keduanya juga berawal dari hewan yang menginfeksi manusia. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) bersumber dari hewan-hewan mamalia kecil yang menginfeksi manusia, di bagian utara Cina pada tahun 2002. MERS (Middle East Repiratory Syndrome) bersumber dari unta yang menginfeksi manusia di Arab Saudi tahun 2012. 

Beruntungnya, Corona tidak menyebar lewat udara seperti penyakit TBC. Virus ini menular melalui droplet (tetesan kecil), yang keluar dari hidung atau mulut penderita ketika batuk atau bersin. Tapi yaaa.... kalau dia batuk dan bersinnya pas lagi ada angin lewat sih bisa juga akhirnya udara menyebarkan si virus😅. Nah dari bersin dan batuk tersebut, droplet bervirus akan keluar dan nempel di benda-benda sekitar, lalu bermukim di situ sebagai warga lokal. Menurut penelitian yang dibuat di US National Institutes of Health, lamanya si virus bertahan hidup di sebuah benda, bergantung pada bahan dasar benda dan suhu di ruangan. Untuk benda berbahan dasar aluminium dan besi, Corona dapat bertahan sampai 8 jam. Pada benda berbahan dasar kayu, kertas, plastik dan kaca bisa sampai 4 hari. Kalau di permukaan tubuh manusia katanya bisa sampai 3 jam, tapi saya lupa baca info yang ini dari mana jadi jangan langsung dipercaya. Akan tetapi, virus dapat mati jika berada pada suhu di atas 28 derajat. Kalau suhu rendah dan ruangannya lembab, umur si virus malah jadi makin panjang. Ketika ada orang lain yang imunnya sedang lemah datang memegang benda-benda yang sudah terpapar virus, lalu kemudian tangannya menyentuh wajahnya (spesifik pada mata, hidung atau mulut), saat itulah ia sangat berpotensi terinfeksi. 

Sumber : CNN Indonesia


Dalam banyak kasus yang ditemukan, gelaja yang timbul saat terinfeksi Corona sama seperti gejala saat mengalami flu. Penderita akan mengalami demam lebih dari 37,8 derajat, batuk kering yang berkelanjutan, pilek, tenggorokan serak, namun secara lebih lanjut, gejala yang dirasakan dapat menjadi semakin parah dengan adanya sesak nafas dan juga rasa nyeri di dada. Meski begitu, ada pula orang-orang yang positif terinfeksi namun tidak mengalami gejala seperti yang saya tulis di atas. Mereka merasa segar bugar, tidak demam dan tidak batuk pilek, namun ketika menjalani tes ternyata sudah terinfeksi. Hal ini bisa lebih membahayakan karena mereka bisa secara tidak sadar menulari penyakit ke orang-orang yang imunnya sedang lemah.

Corona memang menjadi sebuah ancaman serius bagi Indonesia. Kasus pertama ditemukan tanggal 2 Maret dan sampai hari ini kasusnya langsung melonjak pesat ke angka 500san. Langkah terbaik yang bisa diambil oleh pemerintah adalah social distancing selama 14 hari. Hal ini dilakukan guna memutus rantai persebaran virus sehingga jumlah orang terinfeksi nggak makin banyak. Kenapa harus 14 hari? Karena para ahli kesehatan mengatakan masa inkubasi virus ini adalah 14 hari. Seperti yang saya tulis di atas, orang yang terinfeksi bisa saja mengalami gejala tapi ada juga yang tidak sama sekali. Nah waktu 14 hari itu cukup untuk meyakinkan bahwa apakah kita terinfeksi virus Corona atau tidak. Jika memang seseorang telah terinfeksi, pasti di hari ke 14 itu maksimal dia akan merasakan suatu gejala. Dan ketika ternyata dia sakit tapi belum merasakan gejala, dengan melakukan social distancing, dia tidak akan menyebarkan virus ke orang lain secara tidak sadar.




Presiden juga telah menghimbau agar masyarakat belajar di rumah, ibadah di rumah dan bekerja di rumah. Untuk yang beragama kristen, ibadah minggu dilakukan secara online agar tidak ada aktifitas yang menimbulkan keramaian. Umat muslim pun tidak lagi solat berjamaah maupun solat jumat di mesjid. Sejak tanggal 16 Maret, seluruh sekolah dan kuliah telah diliburkan selama 2 minggu dan semua pembelajaran dijalankan secara online. Ujian Sekolah dan Ujian Nasional resmi ditunda sampai ada pengumuman lebih lanjut. Sayapun akhirnya mengajar murid-murid secara online via Skype dan Google Classroom karena udah nggak berani keluar rumah.

Kantor-kantor juga sudah mendapat surat himbauan untuk work from home pada tanggal yang sama, walaupun meliburkan perusahaan nyatanya jauh lebih sulit daripada meliburkan sekolah. Sebagai langkah bijak, banyak perusahaan yang tidak bisa memberlakukan work from home kemudian mempercepat jam kerja dan membentuk shift sehingga para karyawan dapat libur secara bergantian. Meski begitu, ada banyak pula orang yang tak bisa melakukan social distancing karena terpaksa bekerja di luar rumah. Pengemudi online, kurir dan pedagang kaki lima misalnya. Urusan perut sangatlah bergantung pada kerja keras mereka dari hari ke hari. Meski gentar dengan virus yang bisa meregang nyawa, tapi ada banyak harapan di pundak para pencari nafkah itu untuk bisa makan setiap harinya. Miris. Tapi itu realita.

Untuk orang-orang yang masih harus bekerja di luar rumah, ada banyak cara untuk bisa memproteksi diri. Jaga jarak aman dengan orang lain minimal 1 meter. Nggak usah kontak fisik seperti bersalaman apalagi cipika cipiki. Bahaya itu. Dadah-dadahan aja dulu kalau emang perlu menyapa. Kalau lagi batuk pilek, wajib pakai masker. Mau positif Corona atau enggak, pokoknya pakai aja! Rutin cuci tangan dengan cara yang benar selama 40 detik menggunakan sabun sangat ampuh untuk membasmi virus. Kalau tidak memungkinkan sering cuci tangan, bisa juga membersihkan dengan hand sanitizer asal dilakukan juga dengan cara yang benar. Daya tahan tubuh tidak boleh sampai lemah, jadi asupan makanan harus dipastikan mengandung gizi seimbang agar imun meningkat. Minum air putih walaupun hanya sedikit setiap 15 menit juga dipercaya bisa mendorong virus yang sudah terlanjur masuk ke badan, sehingga sampai ke lambung dan mati digerus asam lambung. Ketika pulang ke rumah, langsung mandi dan baju langsung dicuci atau dipisahkan di wadah tersendiri. Secara berkala bersihkan rumah menggunakan disinfektan supaya virus yang mungkin ada di benda-benda dalam rumah bisa mati.

Sumber : Dokumen.tips


Sebagai negara berpenduduk 270 juta jiwa, memang tidak mudah bagi pemerintah Indonesia untuk bisa mengedukasi masyarakat secara cepat dan merata. Bagi penduduk yang menengah ke bawah, informasi yang beredar sekarang mungkin masih sulit untuk mereka pahami. Istilah social distancing lah, inkubasi lah, pandemi lah, tentu merupakan kata-kata yang sangat awam namun kerap digunakan tanpa diberi penjelasan detil. Ditambah lagi hoax yang seliweran di media sosial semakin membuat rancu dan tidak tenang. Tak bisa dipungkiri juga, masyarakat +62 ini tingkat kesadaran sosialnya masih minim. Kalau bahasa Inggrisnya tuh ignorant. Pada situasi seperti ini, orang yang lagi batuk dan pilek tapi cuek nggak pakai masker masih ada aja. Orang yang nggak pakai masker dan pas batuk atau bersin nggak tutup mulutnya juga ada. Ketika pemerintah ribut menghimbau untuk karantina mandiri di rumah, orang yang masih santai-santai ngumpul di cafe juga masih ada aja. Yaaa, itulah Indonesia. Mau gimana? Mau bilang apa?




Semoga masyarakat makin cepat tanggap akan betapa berbahaya situasi yang kita alami saat ini. Semoga orang-orang yang masih ignorant akan segera paham kalau tingkah mereka itu sungguh konyol, karena mereka tidak hanya membahayakan nyawa sendiri tapi juga orang banyak. Semoga informasi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan virus Corona dapat segera tersebar merata ke seluruh penduduk Indonesia agar mereka bisa waspada, bisa menjaga diri dan menjaga orang-orang terdekat. Obat yang khusus menyembuhkan Corona sampai saat ini belum ada di Indonesia. Masih diusahakan untuk bisa diimport dari luar negeri. Rumah sakit dan para petugas medis saat ini kewalahan menangani kasus yang sudah ada karena penanganannya masih seusai dengan gejala yang dirasakan pasien. Jadi satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah dengan menjaga diri supaya tidak sakit.




Sekian dulu tulisan panjang dari saya. Maklum, lagi nggak ada kerjaan karena social distancing, jadilah punya banyak waktu untuk nulis panjang. Setidaknya sekali-kali blog saya ini ada tulisan berfaedahnya ya walaupun informasi serupa juga udah seliweran di internet. Nggak apa-apa, paling tidak saya punya rekam jejak digital tentang cerita virus Corona. Siapa tau 10 tahun yang akan datang iseng baca blog lagi dan keinget akan sebuah peristiwa mendunia. Besar harapan saya, dan pastinya seluruh warga dunia yang lain, agar horror non-fiksi ini lekas berlalu. Jangan berhenti berdoa yaa, teman-teman, kakak, adik, om dan tante. Stay safe, stay healthy and stay hygenic, everyone!

No comments:

Post a Comment