Friday, May 15, 2020

Movie Review 2020 (Part 1)




Hai para penikmat tulisan di dunia maya.

Kembali lagi bersama saya di Movie Review 2020. Seperti tahun yang lalu, saya akan membagi movie review ini menjadi dua part dimana part 1 akan release di pertengahan tahun dan part 2 di akhir tahun.

Oh iya, udah pada tau belum berita sedih yang mengawali tahun ini? Website kesayangan masyarakat Indonesia untuk nonton film bajakan , Indo XXI , sudah resmi ditutup per tanggal 1 Januari kemarin guys. Tapi tenang, sebulan setelah itu mulai bermunculan bibit-bibit web bajakan baru kok. Hahaha. (Maaf ya ngajarin yang nggak bener) Yah lagian, hari gini sih naif banget kalau mau bilang pembajakan bisa sepenuhnya diberantas. Sama seperti bisnis pendidikan dan produk bayi, pembajakan juga nggak akan pernah mati karena yang rusak itu udah mindset.

Satu lagi nih bad news. Sejak ada pandemi Corona, bioskop di seluruh dunia ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan. Film-film box office yang sudah berencana tayang di bulan Maret sampai seterusnya, terpaksa harus mendepak jauh tanggal premier mereka ke akhir tahun. Pupus sudah harapan untuk bisa segera nonton film Mulan, James Bond yang ada Rami Malek, Wonder Woman,  dan sederetan film lain yang udah ditunggu-tunggu.


Selain bad news, ada good news juga. Film Parasite yang saya daulat sebagai film terbaik tahun lalu (versi saya sendiri) berhasil membuktikan kualitasnya dengan meraih segambreng penghargaan di berbagai festival film. Cannes Film Festival, Golden Globe Awards, Hollywood Film Awards, dan segambreng lainnya yang sampai di Wikipedia dibuatin satu halaman sendiri khusus untuk daftar nominasi dan penghargaannya. Namun yang jadi pencapaian luar biasa adalahhh.. Parasite menang di ajang Academy Awards. Menang piala Oscar cuyyyy. Empat piala diborong. Luar biasa.

Baiklah, tanpa perlu opening yang lebih panjang lagi. Saya akan langsung mulai saja yaaa review filmnya.. In no particular order, here they are...



〓 Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Film pertama di tahun 2020 yang berhasil bikin nangis sesenggukan dari mulai pertengahan sampai akhir film. Saya udah semangat mau nonton ketika tau penulis skenarionya adalah Jenny Jusuf. Orang ini tuh one of a kind. Dia salah satu tim penulis di film Cek Toko Sebelah, Critical Eleven dan Mantan Manten. Film-film yang bukan hanya indah dalam kesederhaan tapi juga membekas di hati. Cerita di film NKCTHI sangat dekat dengan realita. It's about family. Semua sisi tentang keluarga dibahas di sini. Bagaimana pola pikir ayah, ibu, anak sulung, anak tengah dan anak bontot, semua dijabarkan dengan seimbang dan tidak berpihak. Dialognya indah banget. Setiap penonton pasti akan ngerasa relate sama salah satu, salah dua atau mungkin salah tiga dari adegan di film ini. Bagaimana ekspektasi orang tua beradu dengan kemauan para anak. Bagaimana anak berusaha memahami dan menyikapi setiap masalah yang mereka hadapi sesuai dengan kapasitas umurnya. Bagaimana orang tua selalu mengusahakan yang terbaik untuk anaknya dengan cara yang mereka anggap benar. Uh, kalau inget film ini sedihnya masih kerasa. Coba nonton sama ayah ibu atau sama kakak adik, biar lebih sedap menyesap. 



Film fantasi yang masih tergolong ringan. Sensasi yang saya dapatkan ketika nonton film ini tuh sama seperti kalau nonton film Nanny Mcphee, Maleficent, Alice in Wonderland, (btw, produser film ini emang yang jadi produsernya Maleficent sama Alice in Wonderland sih, jadi yaa.. gitu) atau Beauty and the Beast yang versi asli. Kalau bersanding sama Fantastic Beast atau Percy Jackson sih jauh ya karena Dolittle nggak se-serius itu. Magical world yang diciptakan sangat mempesona. Nggak usah terlalu banyak berharap sama storywise nya ya, cukup nikmati aja keindahan CGI yang di suguhkan. Robert Downey Jr masih membawa karakter sombong dan sedikit bodo amatan seperti banyak peran serupa yang ia pernah mainkan, namun kali ini dengan kemasan yang berbeda. Well, untuk hiburan ringan bolehlah film ini jadi pilihan. Cocok banget untuk jadi pilihan tontonan keluarga.



Film Ernest Prakasa kali ini lebih kerasa nuansa perempuannya. Mengangkat tema bodyshaming yang ternyata sangat sering ditemukan di berbagai lingkungan, dalam dunia kerja, dalam pertemanan bahkan di keluarga sendiri. Sebuah hal yang sebenarnya serius tapi dikemas ringan dengan komedi khas Ernest sehingga pesannya mudah tersampaikan. Film ini sukses bikin saya ketawa, nangis, ketawa dan nangis lagi. Reza Rahadian berperan sebagai pemeran utama di sini tapi menurut saya nggak terlalu memberi dampak. Andaikan bukan Reza yang dapet peran itu, saya yakin Imperfect akan tetap bisa menggapai hati penonton karena banyak tokoh-tokoh lain yang membawa karakter kuat.


Ashfall

Saya acungi 2 jempol untuk ide ceritanya yang menggabungkan antara bencana alam dan action mafia-mafiaan. Pas nonton trailernya, saya dan Michelle sempet geleng-geleng kepala, "Makin aneh-aneh aja ni film Korea" pikir kami. Meski begitu, nggak dipungkiri filmnya emang seru banget. Pernah ngerasain kan deg-degannya nonton Train to Busan? Nah sensasi yang sama pun saya rasakan ketika nonton Ashfall. Pemain-pemain yang dipercaya untuk berperan juga bukan aktor dan aktris kaleng-kaleng. Mulai dari Lee Byung Hun, Bae Suzy, Ma Dong Seok sampai Jeon Hye Jin (istrinya Lee Sun Kyun, om-om kecintaan gw) ada di sini. Film ini hasil duet sutradara Lee Hae Jun dan Kim Byeon Seo, spesialisnya film-film geregetan. Saya nggak usah banyak komentar lagi lah ya. Monggo langsung ditonton aja. Thank me later.


〓 To All the Boys I've Loved Before 2: P.S I Still Love You

Ini sekuel dari film yang tempo hari pernah saya ceritain jadi inspirasi untuk nulis tentang kenangan mantan. Sayangnya seperti yang sudah saya duga, pasti kisahnya tentang cinta segitiga lagi dan tentang struggle nya hubungan percintaan si ansos versus si populer. Sorry not sorry, tapi ceritanya udah bisa ketebak endingnya. Saya jauh lebih suka cerita yang pertama daripada yang kedua ini. Masih layak tonton sih, tapi nggak dengan ekspektasi yang tinggi ya. Genrenya terlalu remaja jadi untuk wanita -30an- semacam saya agak kurang dapet feelnya.


Birds of Prey

Setelah disuguhkan film Joker yang begitu dark dan draining, Birds of Prey muncul sebagai film yang lebih ringan, segar berwarna dan banyak lawaknya. Harley Quinn tampil dengan kegilaan yang cenderung loony, bukan kegilaan yang ke arah psycho. Mungkin ini kali yah yang bikin Joker sama Harley bisa jadian. Harley memberi warna dalam kehidupan joker yang gelap dan mereka dipersatukan oleh benang merah "kegilaan" yang membuat mereka merasa tidak sendirian. Yah itu cuma sekedar teori ngasal saya aja sih. Perjalanan hidup si wanita gila ini yang sebenernya kelam dari kecil ternyata hanya disuguhkan dalam bentuk prolog singkat itupun dengan gaya yang berwarna. Jadi dari awal udah dikasih aba-aba nih kalau filmnya nggak akan se-serius film Joker. Overall, film ini tidak membosankan dan tidak banyak dialog-dialog panjang bikin ngantuk seperti kebanyakan film DC. Cukup menghibur dan dengan warna-warni ala Harley Quinn yang meriah tapi juga nggak bikin sampai standing applause semacam film Joker.




Yup, film Birds of Prey adalah film terakhir yang saya tonton di bioskop dan nggak lama setelah itu, bioskop-bioskop mulai ditutup. Sedih ya? Tapi tenang ajaa.. Seperti review-review sebelumnya, saya juga akan menuliskan rekomendasi film lama yang baru sempet ditonton pas udah tahun 2020. Siapa tau bisa jadi referensi kalian, mumpung lagi banyak waktu senggang kan untuk nonton film. Here they are: 



๐“‚น Newness

Film sederhana yang bikin saya geleng-geleng kepala. Terbilang cukup berani menggambarkan situasi percintaan yang wild, yang bebas, yang mengutamakan unsur kesenangan dan kebahagiaan tapi dekat dengan keegoisan. Berhasil bikin saya nonton sampai habis karena penasaran apakah hubungan model seperti itu akan berakhir bahagia atau enggak dan jawaban yang diberikan oleh film ini fair enough. Sang sutradara dan penulis juga berhasil menyisipkan pesan bahwa luka kelam dan kebiasaan di masa lalu bisa sangat mempengaruhi hubungan di masa sekarang jika dibiarkan tidak terselesaikan. Intinya film ini bagus sih untuk nambah-nambah referensi tentang keragaman jenis hubungan percintaan. Mungkin nggak akan banyak ditemukan di Indonesia, tapi siapa tau yaaa? Hehe. 


๐“‚น Only the Brave

Film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Arizona, Amerika Serikat, tahun 2013 lalu. Awalnya sempat ragu mau nonton karena filmnya lumayan lama, 2 jam 13 menit. Apalagi film yang berangkat dari true story biasanya suka ngebosenin kan. Eh tapi ternyata tidak loh. Film ini sungguh sangat menyentuh lewat banyak adegan dan sisipan dialog yang indah. Sesuai dengan judul filmnya, keberanian para pemadam kebakaran hutan memang patut diacungi jempol. Mereka meresikokan nyawa demi menyelamatkan lebih banyak nyawa, karena api yang membakar hutan itu daya rambatnya sangat cepat. Perjuangan anak istri merelakan kepala keluarga bekerja di tengah bahaya juga berat. Pengembangan konflik dan karakternya nggak terlalu spesial tapi setiap elemen di film ini berhasil menciptakan sebuah kesatuan yang sangat apik. 


๐“‚น Twiv๐Ÿ’™rtiare

Saking cepetnya masa tayang Twivortiare di bioskop, saya jadi nggak sempet nonton tuh padahal udah penasaran banget. Untungnya filmnya cepet tayang di aplikasi nonton streaming. Saya sengaja langganan hanya untuk satu bulan demi bisa nonton film ini (pas ada diskon juga sih kebetulan). Yah selain karena pemainnya Reza Rahadian, storywise nya juga sangat bikin penasaran. Hanya saja memang Reza Rahadian berhasil banget bikin film ini jadi terasa kaya beneran. Menggambarkan bahwa faktor perceraian nggak semata-mata karena uang atau orang ketiga. Lelah hati dan pikiran serta minimnya waktu untuk ngobrol sangat memungkinkan membuat sebuah pasangan berpisah. Nggak gampang jalanin hubungan apalagi kalau karakter orangnya beda banget tapi bukan berarti nggak bisa. Kalau versi bule ada film Marriage Story, nah di Indonesia ada Twivortiare ini.


๐“‚น The Judge

Film yang berbahaya itu sebenernya adalah film yang sedihnya minta ampun, tapi saya nggak bisa nangis. Karena perasaan nggak bisa terluapkan lewat airmata, akhirnya meninggalkan lubang besar di hati dan ujung-ujungnya jadi nyesek berhari-hari. The Judge ini salah satu contohnya. Mengangkat tema balada keluarga yang kompleks dan serius tapi dikemas dengan sederhana. Mampu menggambarkan secara imbang antara sudut pandang seorang ayah dan seorang anak. Masalah yang sudah berakar bertahun-tahun, saling punya pembenaran sendiri atas kesahalan satu sama lain, akhirnya jadi bingung harus dimulai dari mana ketika inginnya menguraikannya. Robert Downey Jr lagi-lagi kebagian peran sebagai tokoh utama yang berwatak songong karena punya kemampuan dan (tentu saja) tajir. Dalam film ini dia jadi pengacara yang lihai memanipulasi, memanfaatkan segala bukti, dan dengan cepat memahami situasi. Aktingnya dapet banget. Emang udah dia banget karakter yang kaya gitu. Trik-trik pengacara dalam membela kliennya juga disuguhkan secara apik dan tidak membingungkan bagi orang-orang yang awam terhadap cara main di dunia hukum.


๐“‚น Bad Police / Jo Pil Ho : The Dawning Rage

Kalau yang main udah Lee Sun Kyun nggak usah ragu lagi deh ya. Udah sering kan saya memuja dia di beberapa review. Selalu tampil gemilang di setiap film yang ia bintangi dengan gaya akting yang naturally amazing. Sebut saja Parasite, A Hard Day, The Advocate dan Helpless, terus sekarang nambah satu lagi nih, Bad Police. Film ini patut diacungi jempol karena mengangkat tema yang cukup berani. Dibuat oleh sutradara yang juga membuat film No Tears For The Dead dan A Man From Nowhere. Kerasa banget sentuhan kelamnya. Saya belum nonton film-film dia yang lain sih tapi sepertinya sutradara ini memiliki ciri khas dimana pemeran utamanya dibikin punya sisi jahat dan sisi baik yang sama kuatnya. Sempet baca-baca beritanya, film ini katanya nggak laku di bioskop karena banyak menuai kritik terrkait isu yang pernah ada di Korea. Makanya dalam hitungan bulan  Bad Police langsung tayang di Netflix. Meski begitu, menurut saya sih bagus banget dan sangat layak tonton.


๐“‚น In A Tall Grass

Perasaan baru lihat film ini di Netflix tapi ternyata udah tayang sejak tahun lalu. Sebuah thriller yang diangkat dari cerita buatan -duet bapak-anak- Stephen King dan Joe Hill. Mungkin saya harus baca novelnya ya baru bisa ngerasa puas karena menurut saya filmnya kurang bisa menggambarkan letak serunya cerita yang disuguhkan si penulis. Saya pribadi sih selesai nonton masih banyak bertanya-tanya dalam hati tentang kenapa begini kenapa begitu. Filmnya seolah memberi penggambaran tentang halusinasi tapi kok malah ternyata beneran. Hal-hal benerannya kok seperti cuma imajinasi. Dikira tokohnya lagi mimpi tau-tau enggak mimpi. Akhirnya jadi sebel  sendiri saya nontonnya. Haha. Mungkin ada yang bisa bantu jelaskan..?


๐“‚น Forgotten

Lagi-lagi menemukan film keren di Netflix ketika lagi bingung mau nonton apa. Ini film sih asli plot twist nya juara banget. Trailernya dibuat sedemikian rupa sehingga nggak merusak plot twist yang disuguhkan tapi tetap bikin penasaran untuk mau lanjut nonton filmnya. Kang Haneul kembali keluar dari zona nyaman dengan bermain peran yang serius dan mengandalkan emosi. Awalnya saya "merasa" bisa menebak alur filmnya bakalan kaya gimana. Lalu dipertengahan cerita saya kaget akan suguhan plot twistnya dan jadi mulai punya tebakan lain. Eeehh, tau-tau di sepertiga akhir film ada kaget-kagetan part 2 karena plot nya di twist sekali lagi dan akhirnya tebakan saya salah semuanya. This forgotten movie successfully make it unforgettable.


๐“‚น Hot Girls Wanted

Nggak nyangka di Netflix ada film dokumenter semacam ini. Hmm, bingung juga gimana mau reviewnya. Hot Girls Wanted mengisahkan tentang bisnis film porno di Amerika. Ternyata setiap hari, cewek yang udah ulangtahun ke 18, dari negara bagian yang berbeda-beda, dengan alasan yang beragam pula, akan berbondong-bondong mendaftarkan dirinya untuk jadi bintang porno. Kemudian mereka akan bekerja, ditampung di rumah yang bisa dibilang "asrama", lalu mendapat bayaran besar, dan menerima segala suka duka sampai akhirnya mereka sudah tidak lagi "layak" dapat panggung. Bukan film yang mengedukasi sih tapi setidaknya bisa memperluas pengetahuan tentang sisi lain dari sebuah industri film porno.


๐“‚น The Final Recipe

Sebenernya The Final Recipe film udah lama banget, tahun 2013 kalau nggak salah dan saya sama skali nggak pernah denger gaungnya pada saat itu. Film ini direkomendasikan seseorang yang saya tau selera filmnya lumayan bisa diandalkan, tapi nyari filmnya tuh lumayan susah. Saking susahnya, saya sampai terpaksa nonton yang versi didubbing pakai bahasa Cina dengan subtitle Indonesia padahal aslinya film ini berbahasa Inggris. Mungkin secara storywise kelihatannya sederhana ya tapi teknik-teknik masak yang ditampilkan luar biasa banget. Cinematografinya yang menampilkan masakan-masakan berwarna warni successfuly spoil my eyes and make me drool. Pemain utamanya itu si Henry Lau, anggota Super Junior yang juga main di film A Dog's Journey. Saya tau sih dia emang multi talented, main alat musik bisa macem-macem, kemampuan berbahasanya pun begitu. Ketika berperan di film ini Henry nggak terkesan kaku pas adegan masak-masak karena memang dia bisa. Bagusss filmnya, emang layak untuk direkomendasi.







Untuk film-film yang saya tonton selama dua bulan masa pandemi, akan dibuat dalam review terpisah, supaya jadinya nggak terlalu panjang. Sebentar lagi tulisannya rampung kok, mohon bersabar ya. Sekian dulu movie review 2020 part pertama ini. Besar harapan saya bisa segera nulis kelanjutan part kedua, tapi yaa harus nunggu bioskop buka dulu kan. Sedih sih memang, melihat bagaimana situasi seperti sekarang ini begitu mengguncang nasib para pekerja film. Bukan hanya sutradara dan para artis-artis nggak bisa shooting, tapi kru-kru film, yang nasib isi perutnya bergantung dari proses shooting juga akhirnya harus pontang panting nyari akal supaya dapur tetap ngebul. Semangat ya semua. We are all in this together. Yuk, kita doa sama-sama, semoga pandemi ini segera berlalu. Udah pada kangen kan, dibisikin "aaaaall...aroooound.....youuu...." ?

No comments:

Post a Comment