Haiiii para insomwan dan insomwati yang lagi sibuk menjelajah dunia maya di tengah malam. Kebetulan saya menulis ini pas lagi tengah malam karena sejak akhir bulan September lalu insomnia saya kambuh lagi. Sekarang udah jauh mendingan sih, tapi malem ini kebetulan mata lagi jreng banget. Iseng aja tau-tau malam ini buka blog untuk menyapa orang-orang yang senasib dengan diriku.
Nggak terasa ya sekarang udah masuk tahun 2021. Berarti sudah setengah tahun saya absen menulis di blog. Ada nggak sih yang kangen? Nampaknya tidak ada, hahaha. Well, bagi yang diem-diem nungguin tapi nggak mau bilang, maafkan daku ya baru sempet nulis lagi sekarang. Saya berencana membuat tulisan ini sebagai rangkuman cerita setahun kemarin. Seperti biasa, tulisan ini pasti akan jadi tulisan yang sangaattt panjang walaupun niatnya nggak mau cerita terlalu panjang. Looking back on what I've been through the past 366 days. Whoaah, what a year, 2020! It was really not an easy year to be lived with. Thought it will be the year I got everything I want, turns out 2020 has taught me to appreciate everything I have. Healthiness, especially. Be grateful even for a small good thing and reduce complaining habits even in a big situation (this is the hardest).
Seperti yang udah pernah saya tulis setahun lalu, saya membuat keputusan besar dalam hidup yaitu bercerai. Tepat di hari Valentine, saya melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Proses perceraian lumayan menguras tenaga dan emosi. Saya memutuskan tidak menggunakan pengacara karena tidak ada hak asuh anak atau harta gono gini yang diperebutkan. Bolak balik urus berkasnya sendiri, bolak balik sidang, dan prosesnya memakan waktu lebih lama karena pandemi. Putusan cerai akhirnya ditetapkan hampir lima bulan kemudian. Selepas perceraian itu, I tried my best to deal with the heartache. Saya memilih tinggal sendirian di apartemen di daerah Ciputat untuk menenangkan diri tapi kesendirian itu juga kadang menggerus-gerus hati. Sering kali saya hanya bisa melampiaskan sedih, kecewa dan kesepian dengan menangis sendirian di kamar sambil dengerin lagu-lagu mellow.
Pandemi Corona tidak hanya memperlambat proses perceraian saya tapi juga lumayan mencarut-marutkan perekonomian. Yah, mungkin dalam hal ini, seluruh dunia merasakan ya. Saya sempat jadi pengangguran 3 bulan berturut-turut. Banyak hutang, pinjaman online dan tagihan-tagihan yang tetap harus dibayar entah bagaimana caranya. Manalagi banyak masalah bermunculan terkait perekonomian itu, seperti ibu dan adik saya yang diusir dari kontrakan karena pemiliknya nggak bisa negosiasi kelonggaran waktu pembayaran. Lalu adik saya harus bayar biaya masuk kuliah yang terbilang tidak sedikit jumlahnya. Syukurlah pelan-pelan masalah ekonomi sudah bisa teratasi meski belum sepenuhnya tuntas. Masih terseok-seok memang, gaji hanya cukup untuk bertahan sebulan, belum bisa disisihkan untuk menabung. Meski begitu, saya tetap bersyukur tidak lagi menganggur dan pelan-pelan bisa melangkah maju.
Hal terakhir yang paling keras menghantam di tahun 2020 adalah saya di-ghosting sampai depresi. Bagi yang nggak tau, istilah ghosting dipakai untuk menggambarkan situasi di mana ada cewek dan cowok lagi deket tapi suatu ketika salah satu dari mereka tiba-tiba mengakhiri hubungan dengan memutus semua akses komunikasi tanpa memberikan penjelasan apapun. Iya, ada seseorang yang hadir mengisi relung hati pasca perceraian saya lalu kemudian nge-ghosting. Sebut saja dia si Kangkung. Jujur, kehadiran si Kangkung ini meninggalkan kesan mendalam. Sosok yang menguatkan, yang memberi rasa nyaman dan aman, menawarkan suatu jenis hubungan yang menyenangkan. Sosok yang sangat dibutuhkan dalam fase ringkih saya saat itu. Kami tidak terikat dalam komitmen tertentu. Hanya dekat tanpa ikatan. Dekat yang terlalu dekat. Sampai suatu ketika, terungkap fakta bahwa Kangkung masih punya pacar. Namun anehnya, berkali-kali dia mencoba meyakinkan bahwa perempuan itu hanya mantan kekasih yang selalu menempel bagaikan permen karet dalam hidupnya. Perempuan yang tidak bisa diberikan posisi lebih daripada "mantan kekasih" karena kesalahan fatal yang sepertinya sulit dimaafkan. Saya, yang meski udah tau ada banyak kejanggalan, dengan bodohnya merasa bahwa masih membutuhkan keberadaannya di sisi saya, sehingga berusaha untuk mengamini semua penjelasan dan menutup mata dari kenyataan. Yang penting dia masih ada untuk saya, itu saja sudah cukup. Sudah se-mengalah itu, sayapun masih di-ghosting. Si Kangkung pergi, memblokir semua akses komunikasi, tanpa ada sepatah katapun yang ditinggalkan.
Inilah yang akhirnya menjadi trigger dari gejala-gejala depresi yang saya rasakan. Terlihat cemen memang. Kayanya kok ya bucin banget ya, ditinggal cowok doang sampai depresi. Awalnya nggak bisa nge-claim bahwa apa yang saya rasakan itu depresi karena belum dapat diagnosa yang pasti dari psikolog atau psikiater. Kala itu, saya merasa mood naik turun. Otak serasa tidak berhenti berpikir sampai isi pikiran tumpuk menumpuk. Tidur semakin susah. Sudah berusaha terpejam tapi seolah isi kepala terus beraktivitas. Saya jadi sering minum alkohol. Hampir tiap hari saya minum sendirian di kamar, dengan harapan bisa mabuk sampai tertidur. Paginya saya sadar selama mabuk saya ternyata nelponin WA si Kangkung sampai belasan kali dan saya ngoceh-ngoceh nggak jelas di voice note. Untungnya nomer saya diblokir jadi ya nggak nyampe juga itu voice notesnya. Hehehe. Ya ampun nulis cerita ini saya jadi malu sendiri hahaha! Saat bisa tidur tepat waktupun, bangunnya nggak terasa segar. Emosi sering meluap nggak jelas. Di depan orang bisa haha hehe seperti nggak ada masalah, tapi dalam waktu sekian menit saya bisa menangis tersedu-sedu karena merasa ada yang hancur di dalam hati (entah di bagian hati sebelah mana).
Bawaannya ketemu orang jadi males, kerja jadi males, ngapa-ngapain males, tapi di sisi lain pengen juga ada di samping orang-orang terdekat untuk mendapatkan ketenangan. Pengen dipeluk, pengen diajak ngobrol yang ringan-ringan dan bercanda tanpa perlu ditanya lagi ada masalah apa. Sayangnya saya nggak bisa leluasa gangguin orang terdekat saya karena mereka lagi pada sibuk dan struggling sama masalah hidup masing-masing juga di masa pandemi yang nggak kunjung habis ini.
Sehari-hari, rasanya sensi banget sama orang-orang. Mau itu lagi PMS atau nggak PMS tetap aja sensi. Padahal saya tuh terbilang nggak kaya cewe-cewe lain yang memanfaatkan masa-masa PMS nya untuk minta pengertian atas ke-drama-an yang dibuat. Saya berusaha banget untuk menekan dampak sensi saya dengan nggak mau kelihatan marah meledak-ledak, namun itu sungguh tidak mudah. Semua amarah diredam, ditekan ke dalam, ditumpuk, dan akhirnya pas meledak, triggernya cuma karena hal sepele. Saya bisa mendadak marah untuk satu pertanyaan sepele yang bagi saya menyudutkan, padahal pas ditelaah lagi tuh biasa aja. Saya juga, untuk pertama kalinya dalam sejarah 10 tahun mengajar, membentak anak murid yang belajarnya nggak fokus sewaktu online class, dan kemudian saya menyesal dan menangis. I just didn't feel "me" anymore.
Dari hal-hal yang dialami itu akhirnya saya mencoba konsultasi dengan psikolog. Setelah bercerita panjang lebar dan menjalani tes saya didiagnosa kena depression dan anxiety. Asumsi awal adalah mungkin saya belum benar-benar memberi waktu bagi diri saya, untuk bisa pulih total secara mental pasca terus-terusan dirundung masalah setahun belakangan ini. Atau mungkin kalau mau ditarik lebih jauh lagi, sejak sepuluh tahun belakangan saya nggak pernah dapat penyembuhan yang tepat dari semua sakit hati yang saya rasakan. Saya hanya terus jalanin hidup dengan luka mental yang ada, berusaha kuat, dan berharap bekas lukanya sembuh seiring berjalannya waktu. I thought time will heal almost every pain in people's heart tapi nyatanya tidak begitu. Waktu hanya lewat dan membuat lupa tapi tidak menyembuhkan. Perihal ghosting, psikolog saya menambahkan bahwa hal itu memang bisa dikategorikan kejahatan mental tapi depresi yang saya alami bisa saja berasal dari akumulasi sakit hati yang terpendam sekian lama.
Selain mendapat rujukan ke psikiater untuk resep obat yang bisa menenangkan (saya tapi nggak lanjutin minum karena takut ketergantungan), psikolog saya menjelaskan tentang tahapan kesedihan dan juga mengajarkan tahapan memaafkan. Lucu ya, ternyata memaafkan aja ada langkah-langkahnya. Memaafkan yang dimaksud di sini bukanlah sekedar kemampuan untuk mengucapkan "Yaudah deh, saya maafin" atau "Yaudah, apa yang udah terjadi biarlah berlalu", tapi upaya membuang semua rasa sakit hati atau keinginan balas dendam yang bersifat pribadi terhadap orang yang bersalah atau orang yang telah menyakiti. Jadi nanti kedepannya, bisa lebih lega untuk memulai hubungan kembali. Kan sering tuh ada istilah "forgive but unforgotten". Kita memaafkan tapi nggak bisa lupa. Ketika teringat, pasti rasa sakit hatinya muncul lagi. Sedihnya, amarahnya, sensitifnya terkuak lagi meski sudah bilang memaafkan. Itu semua terjadi karena kita belum memaafkan dengan cara yang benar. Sesuai dengan sabda sang psikolog, tahapan memaafkan terdiri dari empat: Membalut sakit hati, meredakan kebencian, penyembuhan diri dan berjalan bersama.
Tahap membalut sakit hati adalah tahap di mana saya mencoba memahami pemikiran dan sudut pandang si orang yang menyakiti. Kenapa kira-kira Kangkung bisa pergi tanpa pamit dan memblokir semua akses komunikasi? Apa kemungkinan penyebabnya? Apa kesalahan yang mungkin telah saya lakukan sehingga hal ini terjadi? Saya sampai bikin mind maping untuk segala kemungkinan itu saking bingungnya karena saya kan ditinggalin tanpa penjelasan. Padahal sebelumnya kami bener-bener lagi baik-baik aja, loh. Pada akhirnya, mencoba memahami segala kemungkinan membuat saya juga bisa introspeksi diri sendiri. Tuhan menghadirkan si Kangkung untuk mengobati luka hati setelah bercerai. Ketika perasaan saya jatuh lebih dalam, Tuhan mengangkat dia dari hidup saya pasti karena dia bukan orang yang terbaik. Betul apa betul? Anggap saja betul.
Kemudian masuk ke tahap meredam kebencian. Di tahap ini bukan berarti nggak boleh mengakui adanya rasa sakit, tapi justru menyadari adanya sakit itu dan kemudian pelan-pelan melepaskannya. Mencoba bersyukur dan menarik hikmah dari hal yang dialami. Mengingat nilai-nilai positif dari orang yang menyakiti. Semua orang kan pasti punya sisi baik meskipun ada juga sisi buruknya. Berkomitmen dengan diri sendiri untuk melepaskan semua rasa yang selama ini membuat diri nggak tenang. Termasuk rasa cinta, rindu dan kehilangan itu. Caranya bisa dengan curhat ke orang yang dipercaya, menulis, merekam video dan bercerita lewat video itu atau apa aja selama masih positif dan dilakukan secara sadar. Kalau saya sih waktu itu bikin video monolog setiap hari dan berhenti pas di hari ke-100, yang isinya tentang ungkapan perasaan saya setiap harinya. Video itu memang dibuat untuk si Kangkung, tapi ya nggak pernah saya kirim, cuma jadi archieve aja. Sempet juga cerita ke orang-orang yang sangat dekat dan biarkan mereka memarahi saya, membodoh-bodohi saya lalu kemudian menyemangati saya. Ketika melewati tahap ini, jujur perasaan jadi jauhh jauhh jauuuhhhh banget lebih ringan. Sudah bisa tidur pulas. Emosi kembali stabil. Hampir tidak pernah nangis lagi. Sudah bisa konsentrasi lagi dalam bekerja. Pokoknya much better.
Tahap selanjutnya adalah penyembuhan diri. Orang yang sudah nyakitin itu, nggak mungkin mikirin saya kan. Saya adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri, bukannya menggantungkan harapan untuk dibahagiakan oleh orang lain. Tidak ada yang bisa mengembalikan masa lalu tapi masih ada masa kini yang harus dijalani dan masa depan yang perlu direncanakan supaya nggak terus-terusan berada dalam kesedihan. Di tahap ini saya jadi sadar betul tentang self love. Kebahagiaan berangkatnya harus dari diri sendiri. Saya harus mencintai diri sendiri, supaya ketika ada orang baru yang masuk ke hidup saya, dia nggak akan bisa nyakitin saya dengan mudah karena saya udah set boundaries yang kokoh. Untuk membahagiakan diri, saya sering kumpul dengan teman-teman SMA, pergi tanpa tujuan jelas untuk iseng mengembangkan skill fotografi, nonton bioskop, marathon drama Korea, atau sekedar duduk di cafe yang sepi tapi nyaman hanya untuk mencari inspirasi tulisan atau ide-ide terkait pekerjaan. Hehe.
Tahap terakhir adalah berjalan bersama. Saya sudah berhenti menyalahkan. Baik diri saya maupun diri orang yang menyakiti saya. Kenangan-kenangan yang tiba-tiba muncul juga sudah tidak berdampak secara emosional. Bisa disikapi dengan lebih tenang dan tanpa ada lagi derai-derai air mata. Saya menyadari bahwa kemunculan si Kangkung kemaren-kemaren itu memang atas seizin saya, tanpa paksaan dan selama hubungan itu berjalan, saya menikmatinya dan saya bahagia. Pada tahapan terakhir ini sebetulnya sangat dianjurkan untuk rekonsiliasi dengan orang yang bersangkutan. Entah bagaimana bisa, ya atas seizin Tuhan juga dan semesta mendukung pastinya, ketika saya masuk di tahap ini, si Kangkung kembali menghubungi. Yah, meski tidak terlalu terlihat tulus tapi pada intinya dia meminta maaf karena perbuatannya yang menyakiti hati saya dan dia berjanji akan menjelaskan semua ketika waktunya sudah tepat. Nomor telepon saya sudah tidak diblokir, begitu pula sosial media. Kenyataan yang saya sadar betul adalah saya bisa sakit hati tapi saya nggak bisa membenci si Kangkung. Cukup spesial memang dia dalam hidup saya. Makanya ketika dia pergi, saya yang ancur-ancuran. Untunglah dia muncul lagi di saat saya sudah nyaris menyelesaikan terapi memaafkan ini. Saya hanya tinggal mengontrol tindakan dan perasaan agar tidak terjebak di keadaan yang sama meski bisa saja dia kembali menghubungi untuk alasan yang sama.
Begitulah perjalanan tahun 2020 saya. Perlahan saya tumbuh menjadi versi yang lebih baik. Makin percaya sama miracle dari Tuhan. Kalau hari ini masih dikasih napas, berarti Tuhan pasti kasih kekuatan untuk melewatinya. Yang sekecil semut aja, Tuhan jagain, apalagi kita-kita yang disebut makhluk paling sempurna. Berhasil membuktikan kepada diri sendiri kalau semua masalah bisa dihadapi jadi nggak ada alasan untuk menyerah. Mulai bisa menikmati hari-hari tanpa terlalu mengkhawatirkan masa depan dan menyesali masa lalu. Sekarang perasaan udah jauh lebih lega, udah nggak terlalu insomia lagi, udah nggak minum Soju lagi tiap malem, udah bisa ngobrol sama si Kangkung di telepon dengan perasaan biasa aja dan banyak progress baik lainnya. It's a wrap, 2020! I'm gonna give myself a big applause and a warmest hug for being able to survive this year.
Hayoo, sekarang tahun 2021 mau bawa kejutan apalagi nih? Be nice ya, 2021. Oiya, vaksin Covid sudah masuk ke Indonesia. Rencananya pertengahan bulan ini mau mulai dibagikan kepada seluruh masyarakat secara gratis dan bertahap. Semoga jadi langkah awal yang baik untuk menyelesaikan masalah pandemi ini ya. Semangat, semuanya! Terima kasih sudah mau sabar baca tulisan ini sampai selesai. See you in my next post.
No comments:
Post a Comment