Saturday, February 25, 2023

Produk Perpisahan

Permisi.. Ehem.. Hai, para penjelajah dunia maya🙋. Mohon maaf nih, udah lama nggak ada kabarnya. Barusan liat blog ternyata udah mulai usang dan berdebu, jadi marilah sedikit kita kasih sentuhan lembut. Anyway, how's your 2023 going? Baru mau dua bulan juga sih ya, too early to tell. Kalau saya, hmm, baru dua bulan aja rasanya udah campur aduk stroberi mangga pisang jambu, hahahaaha! Nanti deh, saya bahas cerita lengkapnya di postingan yang berbeda. Semoga bahan ceritanya juga udah cukup panjang buat jadi sebuah tulisan, hehehe. Anyway lagi, 2023 saya memutuskan untuk menutup permanen akun blog saya yang di Wordpress. Hmm, nggak ada alasan khusus sih, cuma pengen nutup aja. Jadi untuk beberapa tulisan yang saya rasa bagus (ya bagus enggaknya sih berdasarkan penilaian pribadi aja sih, hahaha bodo amat) mau saya repost di sini. Salah satunya tulisan tentang produk perpisahan ini. Tapi karena ini tulisan lama ya, sekitar 7 tahunan lalu, I decide to add a pinch of salt here and there supaya nggak terkesan tulisan ala "pemikiran lama"😅. 


Ada begitu banyak orang-orang disekeliling saya, baik itu anak-anak, atau orang yang udah bukan lagi anak-anak, yang tumbuh dengan keluarga yang tidak utuh. Ada yang karena salah satu orangtua meninggal, ataupun bercerai. Untuk orang-orang yang mengalami ke-tidak-utuhan keluarga akibat perceraian orangtua, saya sering menyebut mereka dengan istilah Produk Perpisahan.

Well, to be honest, saya adalah produk perpisahan, beberapa murid saya juga ada, beberapa teman saya ada yang produk perpisahan, teman-teman sepantaran yang sekarang akhirnya berpisah dengan pasangannya dan punya anak yang jadi produk perpisahan juga ada, mantan suami saya pun juga produk perpisahan. Saya dan orang-orang disekeliling saya punya cerita yang berbeda-beda, dampak yang berbeda dan cara yang berbeda pula untuk bisa melewati kenyataan. Ada yang jadi benci dengan orangtua, ada yang jadi menutup diri dengan orangtua yang tidak mendapat hak asuh, ada yang trauma, ya macem-macem deh pokoknya. Positifnya juga ada sih, seperti misalnya ada anak yang jadi lebih mandiri karena keadaan, jadi lebih dewasa dan lain sebagainya.

Mungkin beda ya jika orangtua bercerai disaat anak-anak sudah berusia 20 tahun keatas. Setidaknya bukan teenager lagi lah. Anak-anak akan lebih bisa berpikir jernih dan positif untuk menyikapi situasi keluarga tersebut. Orangtua juga bisa lebih terbuka untuk bercerita karena anak-anak usia segitu udah nyampe pikirannya kesana dan mereka juga udah bisa membaca keadaan. Lebih bisa jaga ke-kondusif-an hubungan antara ayah dan ibu mereka. Atau kalaupun ada yang masih kecil , tapi punya kakak yang usianya udah cukup dewasa, si kakak bisa bantu memberi penjelasan yang bijak ke adiknya dari sudut pandang sebagai sesama “anak”. Hanya saja, menurut saya masalah sakit yang dirasakan akibat perceraian itu, nggak bisa diukur dari umur. Sakit pasti akan selalu ada.


Dalam postingan kali ini, saya ingin lebih membahas tentang anak-anak dan remaja yang menjadi produk perpisahan. Miris banget sih kalau liat anak-anak yang jadi produk perpisahan. Emang sih ada orangtua yang cukup bertanggung jawab untuk tetap kompak menjaga komunikasi, mengurus anak mereka dan mencipatakan situasi senyaman mungkin untuk si anak, agar tidak merasa kekurangan kasih sayang. Namun tidak sedikit juga yang masih mengedepankan egoisme masing-masing, dan anak yang jadi kena imbasnya. Walaupun mungkin perceraian memang udah jalan yang dianggap paling baik, tapi belum tentu hati anak bisa terima kalau situasinya nggak dibikin "ramah anak". Well, kalau sekarang sih, tanggapan saya, sebagai yang situasinya sudah pernah merasakan perpisahan rumah tangga, ngerti banget sih betapa sakitnya untuk  "berpura-pura" terlihat baik-baik saja di depan anak, padahal aslinya setiap liat muka si mantan, pengennya diludahin. Hahaha ok itu terlalu ekstrim, tapi ya ngerti lah ya gimana maksudnya. Mengira ketuk palu pak hakim di ruang sidang adalah closure dari satu kisah, tapi ternyata bukan itu closure yang dibutuhkan. Tapi apapun yang terjadi kepada orangtua sebagai invidu, sikap bijak orang tua terhadap anak jelas nggak boleh diabaikan, ya. 


Saya jadi teringat 2 orang murid saya, kakak beradik, jaman dulu waktu saya masih ngajar di tempat les. Pertama kali kenal dengan kedua anak itu tepatnya di tahun 2012, saat si kakak masih kelas 2 SD, namanya disamarkan ya, sebut saja dia Daun dan adiknya selisih 4 tahun dengan si kakak, saat itu masih di TK nol kecil, sebut saja dia Bunga. Mereka itu kakak beradik yang termanis yang pernah saya temukan. Daun itu sayaaaaang… banget sama Bunga. Begitupun sebaliknya. Pernah ada satu ketika, Bunga dan Daun kelasnya di jam yang sama tapi beda ruangan. Si Daun sampe 5 kali ijin ke kamar mandi pura-pura pipis padahal cuman mau liatin adiknya belajar dari jendela. Nanti kalau Bunga lihat kakaknya ngintip di jendela, dia langsung liat ke jendela juga terus mereka saling nempelin tangan di kaca. Kalau Daun udah puas liatin adiknya, pasti dia bilang “koko (sebutan untuk kakak laki-laki dari etnis Tionghoa) belajar dulu ya, dede belajar yang betul ya?”. Saya kalau liat kedekatan mereka itu rasanya haru banget. Hati berasa anget deh gitu. 

Kadang ya, kalau si Daun datangnya kecepetan, sebelum mulai kelas suka saya ajak ngobrol dulu. Ya basa-basi aja seperti , “Kamu udah makan belum?” , “Gimana hari ini di sekolah?” , atau “Weekend kemarin pergi ke mana?”, dan mostly murid-murid saya seneng sih diajak ngobrol begitu, tidak terkecuali si Daun. Dia suka banget cerita tentang game, film kartun, dan cerita tentang betapa dia sayang sama adiknya plus tingkah lucu apa yang belakangan dilakuin adiknya di rumah. Tapi kadang tanpa sadar, Daun beberapa kali cerita tentang bokapnya. Dia cerita kalau bokapnya tinggal di apartemen sama mama lain, terus dia cerita bokapnya tukang bohong, karena sering nggak nepatin janjinya. Dari gaya cerita, intonasi dan raut wajah , kelihatan banget seberapa besar kecewanya dia punya Bapak macam itu.

Suatu saat, guru private Daun harus dituker sama guru yang lain karena gurunya mau kuliah dan nggak bisa pegang jadwal Daun lagi. Salahnya adalah kita nggak konfirmasi sebelumnya ke pihak si murid apakah bersedia kalau jadwal les tetap berjalan seperti biasa tapi gurunya diganti. Kita juga nggak nawarin jadwal lain yang cocok dengan si guru lama. Anak itu akhirnya ngambek, dan Oma nya telepon ke tempat les, menginformasikan kalau Daun mau berhenti lesnya, kecuali kalau gurunya yang lama itu yang balik ngajar dia lagi. Anak itu trauma sama rasa “kehilangan” dan sulit membiasakan “pergantian”. Kalau dia udah nyaman sama suatu keadaan atau dengan seseorang, sebisa mungkin orang itu jangan sampe pergi dari dia, kalo gak dia akan kecewa. Apalagi dalam hal ini, (kalo dari hasil “ke-sok-taua-an” saya, berdasarkan cerita2 dia juga) Daun sering banget di kasih janji palsu, jadi hatinya udah sering kecewa. Makanya dia suka ga gampang menerima kondisi yang baru, dan ketika ada orang yang dia suka harus pergi atau nggak deket lagi dari hidupnya, makin hilanglah respect nya sama “kesetiaan”. Itu contoh kecil. Nggak semua anak yang orangtuanya bercerai akan mempunyai sifat itu. Tapi bisa aja ada dampak-dampak lain.


Kalau dari pengamatan saya terhadap produk-produk perpisahan di sekitar saya, anak-anak produk perpisahan akan ngerasain salah satu atau lebih, hal-hal di bawah ini :

  1. Merasa kecewa dengan konsep keluarga. Ketika mereka sudah punya definisi sendiri tentang keluarga (bisa aja karena diajarin teorinya di sekolah bahwa keluarga itu adalah bapak, ibu, dan anak, living at the same house), dan kemudian kenyataan yang mereka lihat tidak seperti itu, kemungkinan besar mereka akan merasa kecewa. Selain pada konsep keluarga, mereka juga bisa kecewa terhadap keputusan orang tua untuk bercerai. Dampak yang mungkin terjadi dari kekecewaan itu bisa berdampak pada hubungan asmara si anak di kemudian hari. Entah jadi apatis tentang konsep pernikahan dan membina keluarga, nggak mau pacaran, atau mungkin takut berkomitmen. Ada juga kemungkinan di masa depan si anak juga akan mengalami perceraian.
  2. Anak-anak produk perceraian akan mengalami kebimbangan luar biasa tentang sebuah keberpihakan. "Aku harus ikut siapa?", "Aku harus bela siapa?", "Cerita siapa yang harus dipercaya?", termasuk kebimbangan tentang harus lebih sayang sama yang mana setelah kedua orangtuanya berpisah.
  3. Selain bimbang, pasti anak-anak punya kekhawatiran, apakah hal ini terjadi karena kesalahan mereka. Bisa aja karena mereka sebelumnya sering nggak nurut, sering bandel, atau sesimple ada salah ucap yang nggak sengaja mereka lontarkan, misalnya mereka abis main HP papanya dan cerita ke mamanya apa yang dia lihat di situ, yang jadi pemicu pertengkaran. Kemudian mereka jadi nyesel dan nyalah-nyalahin diri sendiri.  Kapasitas berpikir anak-anak dan remaja kemungkinan besar belum kuat menampung masalah sebesar itu, kalau terus-terusan mereka pikirin, dampaknya mereka bisa jadi stress, trauma, bahkan menimbulkan depresi atau kelainan mental lainnya. 
  4. Menurunnya minat untuk berinteraksi sosial. Bisa saja berangkat dari rasa malu karena ada perubahan besar dalam kehidupannya yang disadari bukanlah sesuatu yang positif. Nggak pede karena keluarganya nggak lagi utuh sedangkan temen-temennya nggak seperti dia. Menjaga hati dari rasa iri, karena temen-temennya masih bisa menceritakan tentang keluarganya yang hangat dan utuh. Dampak lanjutannya juga bisa mengalami anxiety terhadap orang-orang karena takut ditanya-tanya tentang masalah keluarganya, dibanding-bandingkan, dianggap "nggak utuh" secara personal akibat backrgound keluarga. 
  5. Kecenderungan bertindak di luar jalur. Ini bisa luas ya arah dan tujuannya. Misalnya karena merasa nggak dapat perhatian sejak orangtuanya sibuk dengan masalah mereka, si anak jadi mulai ngerokok, narkoba, nyicip alkohol, nyobain seks bebas, dan hal-hal aneh lainnya. Hal ini bisa karena mereka pengen dinotice sama orangtua nya ketika melakukan "kebandelan" dan akhirnya dapat perhatian, atau mereka mencari kesenangan sama temen-temennya demi melupakan masalah keluarganya. Ingin diterima di suatu komunitas untuk menghindari rasa sepi kalau di rumah sendirian juga bisa tuh.
  6. Merasa kehilangan sebuah “figur” atau bisa juga membenci sebuah “figur”. Kalau anak-anak di bawah 17 tahun seringnya sang ibu yang dapat hak asuh anak. Untuk kasus-kasus tertentu, bisa saja orangtua yang mendapat hak asuh anak akan membatasi waktu bertemu antara si anak dengan orangtua satunya. Bisa aja karena dianggap ayahnya tidak memberi contoh perilaku yang baik kepada anak, atau takut ayahnya akan kasar dan sebagainya. Hal ini bisa membuat sebuah pemikiran tertanam pada anak bahwa figur si ayah itu jahat dan dia akan membencinya. Atau bisa juga kalau ayah yang dapat hak asuh, anak akan terpisah dari ibu dan akan kehilangan figur yang lembut, figur yang penuh cinta. Belum lagi kalau kasus perceraiannya tentang perselingkuhan. Pelakor pebinor kinda thing, terus setelah bercerai orangtua nya nikahin si pelakor atau pebinor itu. Wah, panjang lagi tuh urusan. Dari hal ini, bisa aja muncul kemungkinan mereka menjadi penyuka sesama jenis, karena kekecewaan terhadap sosok ayah/ibunya. You know lah, daddy issue, mommy issue. Duh ngetik bagian ini, hati saya nyesek deh.
  7. Lelah mondar-mandir, kemudian mempertanyakan kenapa harus berpindah-pindah setiap saat. Weekend harus ke rumah ayah, weekday di rumah ibu. Lagi capek dan mau istirahat tapi harus pergi "quality time" sama salah satunya, padahal si anak lagi nggak pengen ke mana-mana. Apalagi kalau pasca perceraian itu, baik ayah maupun ibunya belum bisa berdamai dengan satu sama lain dan suasana masih dingin. Si anak akan merasa tidak nyaman.


As we know, anak-anak itu belum bisa konsisten, pola pikirnya masih dalam proses pembentukan. Belum dewasa, belum "mateng", baik dalam bertindak ataupun memilih. Jadi…. Menurut saya… Yah ini cuma ke-sotoy-an saya aja sih.. Melihat dari sudut pandang saya sebagai si produk perpisahan yang telah beranjak dewasa. Anak mungkin saja, ini mungkin loh ya, karena saya pribadi sih, merasa  “keadaan ini akan bisa terasa lebih baik untuk dilewati pada saat itu” kalau orangtua melakukan hal-hal ini :

  1. Selalu memberikan unlimited and unconditional support kepada anak untuk mengungkapkan kepada kalian tentang apa yang mereka rasakan. Baik itu positif ataupun negatif, dan cobalah mengerti hal itu. Jangan tutup diri, jangan bantah dan langsung defensive tapi berusahalah untuk mengetahui dan memahami perasaan anak.  Ini jauh lebih baik daripada mereka curhat ke orang lain atau bahkan lebih gawat kalau mereka pendam semuanya sendiri dan akhirnya depresi. Kalau kalian mau support mereka, it will be much easier to bear buat si produk perpisahan. Bantu mereka cari solusi karena anak-anak belum bisa cari solusi sendiri.
  2. Jangan membuat pandangan negatif, atau istilah lainnya “jelek-jelekin” mantan pasangan di depan anak. Mau gimanapun marahnya  dan gimanapun sengitnya permusuhan dengan bekas pasangan, please don’t do that. Alangkah baik jika orangtua bisa sama-sama bantu anak menjaga pandangan positifnya terhadap ayah dan ibunya, karena kalau hal ini tidak dijaga, akan terbentuk pola pikir yang tidak baik dalam diri anak. Mereka akan merasa, ayahnya (atau ibunya) jahat, pengkhianat, atau pembohong. tukang selingkuh, kasar. Bisa aja karena ini, anak jadi dendam dan trauma untuk menikah karena takut diperlakukan serupa. Serem kan?
  3. Jangan jadikan anak sebagai senjata untuk menekan pihak mantan. Bisa untuk meminta uang atau untuk syarat-syarat tertentu dengan membawa-bawa nama anak sebagai jaminan atau taruhannya.
  4. Jangan jadikan anak sebagai “tukang pos”. If you are a parent, please don’t act childish. Hanya karena ke-egoisan para orangtua, anak harus jadi “penyambung lidah” kalau kalian mau komunikasi. Contoh : “Kakak, bilangin tuh ke Papa kamu kalau tanggal 5 batas akhir bayar uang sekolah, masa harus diingetin sih?”.  Kenapa nggak coba komunikasi sendiri aja. Berbesar hatilah untuk menjaga komunikasi karena ini hal yang penting untuk menjaga masadepan anak.
  5. Jangan suruh anak milih mau ikut siapa. Kalian berdua itu adalah seutuhnya milik anak-anak kalian. Kalian berdua harus ada di pihak mereka, bukan mereka yang berpihak pada salah satu dari kalian. Anak-anak itu butuh sosok ayah dan ibu. Nggak bisa disuruh milih lebih rela kehilangan sosok yang mana. Nggak akan ada juga anak yang mau punya orangtua satu doang.
  6. Jangan bertingkah seolah-olah kalian adalah yang makhluk yang paling tersakiti di planet ini akibat perceraian itu, because the fact is your children are. Dengan menunjukkan kelemahan kalian dan betapa tersakitinya kalian, hanya akan menambah beban mental si anak.
  7. Berkacalah pada kejadian perceraian ini jadi berubahlah menjadi pribadi yang lebih baik. Tunjukkan ke anak kalian, kalau kalian tau di mana letak salahnya dan meskipun rumah tangga tidak bisa kembali bersatu tapi kalian berubah menjadi lebih baik. Sikap seperti ini bisa membantu anak menyembuhkan trauma yang mereka alami. Bisa memperbaiki hubungan antara orangtua dan anak juga.
  8.  Boleh berubah sama dunia, tapi jangan berubah sama anak-anak. Kalau bercerai, sebisa mungkin orangtua jangan sampe terlalu banyak “merenggut”  kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga yang sering anak-anak dapatkan. Contoh : Anter jemput sekolah, ngobrol (walaupun melalui telepon), jalan-jalan tiap weekend, watching movies atau apalah itu.
  9. Last but not least, tapi menurut saya justru ini yang terpenting. Asuhlah anak bersama-sama. Jangan lepas tanggung jawab, dari segi apapun. Jangan melimpahkan kewajiban merawat, mengasuh dan membesarkan anak kepada si pemenang hak asuh anak. Karena seperti yang sudah berulang-ulang saya bilang, anak itu butuh kedua orangtuanya, bukan hanya salah satu.


Perceraian bukan mutlak sesuatu yang salah, sebetulnya yah memang bisa saja perceraian jadi satu solusi agar kedepannya keadaan menjadi lebih baik, specially untuk anak. Berikut adalah dampak positif atau bisa dikatakan “hikmah yang dapat dipetik” dari perceraian orangtua :

  1. Kalau ternyata ketika bersama orangtua malah lebih suka berantem di rumah, saling ngamuk-ngamuk ke satu sama lain, mengeluarkan kalimat-kalimat yang nggak sepantasnya didengar anak, atau bahkan sampai melakukan kekerasan, mungkin benar adanya bahwa peceraian menjadi solusi paling tepat agar kedepannya perkembangan mental anak bisa membaik dan anak gausah sampai jadi korban kekerasan.
  2. Hidup bisa aja jadi lebih bahagia. Daripada orangtua berantem terus karena merasa masih terikat hubungan antara satu sama lain, mending saling melepas tapi with no hard-feelings jadi bisa lebih menemukan bahagia, lebih enteng menjalani hidup dan bisa membentuk pola komunikasi baru yang lebih baik supaya lebih enjoy juga dijalanin. 
  3. Anak-anak produk perpisahan akan tumbuh menjadi anak-anak yang lebih mandiri, tahan banting dan dewasa dalam berpikir. Karena kalian sudah mengalami hal yang nggak semua orang alami, di usia yang harusnya cuma tau main aja tapi kalian sudah dihadapkan pada sebuah situasi serius. Itu bekal hidup yang berguna untuk kalian dikemudian hari.

 

Ok, berhubung tulisan ini udah panjang banget, let's jump in to the conclusion. Menurut saya, ok kita emang nggak bisa milih lahir dari rahim siapa dan tumbuh di keluarga mana. Tapi mau jadi apa si anak nantinya, itu 100 persen tanggung jawab si anak. Kalau masalalu akibat perceraian orang tua segitu besarnya meninggalkan luka, please do seek professional help untuk membuat kalian merasa lebih baik daripada cari kesenangan-kesenangan semu. Ambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari kegalalan orang tua. You still deserve to be the best version of yourselves. Always. Produk perpisahan tidak sama artinya dengan produk gagal. Produk perpisahan itu unik, tapi yang jelas udah pasti made from strong ingridients😘. Gimana, pada setuju atau nggak nih, sama tulisan saya? Siapa tau ada yang mau berpendapat atau menyanggah. Boleh loh, share-share di kolom komentar.

Peluk hangat dan salam sayang untuk semua anak produk perpisahan di luar sana. Life must go on, kiddo. Ingat, what doesn’t kill you makes you stronger. Semangat terus ya. Kalau lagi merasa nggak semangat juga nggak apa-apa, yang penting jangan nyerah ya untuk selalu jadi the best version of yourselves. You are not alone.

No comments:

Post a Comment