Tadi sebelum mulai nulis review ini, saya sempet intip-intip postingan lama saya tentang review drama Korea. Nggak terasa, saya udah rutin menulis konten Korean Drama Review selama 8 tahun. Awalnya sih saya nulis Korean Drama Review biar ada catatan personal aja judul-judul drakor yang sudah pernah saya tamatkan. Hal ini memudahkan saya ketika ada orang-orang yang minta rekomen drakor. Saya kasiih link blog saya, supaya mereka tinggal baca dan pilih sendiri mau nonton apa.
Kalau diperhatiin, mulai dari review pertama sampai review yang saya bikin tahun lalu, progress menulis saya udah jauh banget sih. Lebih detil penjabarannya, punctuation lebih rapih, dan tata bahasanya lebih variatif (dikit). Yah, bukannya mau muji diri sendiri, tapi yaaa, emang mau muji sih, haha. ๐๐Self love, bun, self love! ๐Cuma saya jadi seneng aja, karena mendapati fakta ternyata nulis review-review begini ada bagusnya juga untuk melatih dan mempertajam kemampuan menulis saya. Ala bisa karena biasa kan? (Kalau mau lihat review tahun 2014 - 2018, bisa klik di sini ya! 2019 emang nggak bikin, 2020 sama 2021 bisa klik di sini untuk baca.)
Ok, cukup ya basa-basi-busuknya. Sekarang langsung aja kita pretelin, ada drakor-drakor apa yang menghiasi paruh awal tahun 2022 saya. Here we gooo!
Our Beloved Summer
Our Beloved Summer adalah drama ringan yang mengisahkan tentang dua orang teman sekolah bernama Choi Ung dan Yeon Su yang ikutan acara dokumenter ketika masih remaja. Ibarat Tom and Jerry, mereka sering banget berantem di acara itu, karena sifat dan kehidupan mereka beda banget. Eh tapi lama-lama mereka jadi cinlok dan jadian. Nah, sepuluh tahun kemudian, Choi Ung dan Yeon Su ditawarin untuk syuting season dua dari acara dokumenter tersebut. Sepuluh tahun berlalu, tentu kehidupan mereka udah banyak berubah. Begitu juga dengan kisah cinta keduanya.
First of all, let me tell you that I really adore the main actor's house. ๐๐ Model industrial, lantai kayu, nggak banyak sekat ruang sehingga berkesan luas, dan banyak tanaman. Oh ada basement yang kesannya unfinished tapi estetik, yang dipakai sebagai ruang kerja. Duh, kesan hommy nya dapet bangettt. Kapan ya bisa punya rumah kaya gitu? Amin dulu deh ya, siapa tau lagi ada malaikat lewat trus bantu nyampein ke Tuhan buat dikabulin. Second of all, I really appreciate tim properti mereka yang sangat memperhatikan detil-detil cerita. Salah satu contohnya adalah saat ada adegan berlatar tahun 2015, Ung menggunakan Samsung Galaxy s6 yang memang baru keluar di tahun tersebut sedangkan Yonsu masih pakai Galaxy s2 yang udah jadul, benar-benar menggambarkan perbedaan ekonomi kedua karakter utama kala itu.
![]() |
| Korean Drama Review 2022: Our Beloved Summer |
Chemistry antara Kim Da Mi dan Choi Woo Sik nggak usah ditanya yaaa... Muka mereka aja mirip, gimana nggak jadi makin pengen nge-ship? Lucunya, ketika memerankan tokoh mereka saat berseragam SMA maupun karakter usia 30an, dua-duanya masih terlihat sangat cocok. Choi Woo Sik mukanya naturally expresive, nggak terkesan teatrikal. Mulai dari ekspresi kaget, sebel, galau, sampai ekspresi puas abis nangkep nyamuk aja tuh natural dan kocak banget ๐๐ Oh, hands down juga untuk pemeran Choi Ung waktu masih kecil. Aktingnya sincere dan mukanya juga gemesin.
Bad and Crazy
Sesuai dengan judulnya, Bad and Crazy mengisahkan tentang dua tokoh utama yang salah satunya bad dan satunya lagi crazy. Lee Dong Wook memerankan tokoh Ryu Soo Yeol, seorang detektif korup yang sedang berjuang untuk meraih promosi naik pangkat. Sedangkan Wi Ha Joon memerankan seorang sosok narsis bernama K, yang sinting tapi selalu membela kebenaran. Pertemuan mereka selalu tidak terduga dan K selalu mengganggu ketenangan Soo Yeol karena ngajakin ribut melulu. Kebiasaan Soo Yeol yang kerap mengamini dan menutup mata terhadap kasus-kasus di sekitarnya demi mendapat uang suap, sangat bertolak belakang dengan kebiasaan K yang sangat menjunjung tinggi keadilan.
Entah kenapa, Lee Dong Wook selalu lebih berhasil membangun chemistry bromance daripada romance dengan lawan main wanita. Seperti kesuksesannya dalam drama Goblin dan The Tale of Nine Tailed, relationship Lee Dong Wook dan Wi Ha Joon dalam drakor ini sweet dan gemesin banget. Mereka berdua juga bisa all out dalam memerakan sisi "gila" dari karakter masing-masing.
![]() |
| Korean Drama Review 2022: Bad and Crazy |
All Of Us Are Dead
So far, ini drakor yang paling mirip vibe nya sama Train to Busan. Kalau tahun lalu sempat ada Happiness, nah tahun ini ada All Of Us Are Dead. Menyusul kesuksesan Squid Game, drakor bikinan Netflix ini juga jadi buah bibir di kancah internaaasyenel karena berhasil menempati urutan top 10 di 91 negara. ๐ All Of Us Are Dead udah confirm akan ada season kedua, tapi tenang aja, kalian akan tetap bisa menikmati season pertamanya tanpa perlu merasa ada hal yang menggantung, karena season dua bakalan lebih ke pengembangan cerita aja.
All of Us Are Dead juga salah satu adaptasi webtoon yang udah viral di awal 2010 dengan judul Now at Our School. Mengisahkan tentang sebuah SMA di Korea yang mendadak jadi sarang zombie gara-gara ada satu murid yang kegigit tikus. Dari gigitan itulah, satu murid berubah jadi zombie, menggigit murid yang lain, dan secara cepat menginfeksi satu sekolahan. Anak-anak yang masih selamat jadi terpisah berkelompok-kelompok dan berusaha bertahan hidup sampai menunggu bantuan dari luar gedung datang.
![]() |
| Korean Drama Review 2022: All Of Us Are Dead |
Banyak yang berbeda pendapat sih tentang drakor ini. Meskipun begitu, bagi saya pribadi All of Us Are Dead seru banget loh guys. Bikin deg-degan di setiap episode. Cerita nggak difokuskan ke satu atau dua tokoh saja, melainkan semua tokoh punya peran masing-masing yang saling mendukung dengan porsi yang sama banyak. Akting pemeran-pemeran antagonisnya nggak kaleng-kaleng, sukses bikin geregetan dan pengen nampolin kalau ketemu beneran, hahaha. Belum lagi makeup dan koreo zombienya yang apik tenan. Ini sih nggak usah diragukan lah ya. Udah pasti niat banget! Meskipun tetap ada selipan kisah drama here and there, nggak bakalan bikin kalian ilfil kok. Maklumin aja, namanya juga drakor.
Memang sih, karena sudah ada begitu banyak hasil produksi Korea terdahulu yang mengangkat cerita tentang zombie, sang pembuat cerita harus puter otak banget untuk kasih suguhan yang berbeda supaya menarik perhatian penonton. One thing that I like about All of Us Are Dead, ceritanya difokuskan pada anak-anak remaja. Ketika sebuah masalah besar secara mendadak terjadi, anak-anak di usia remaja yang masih labil, baper, dan kebanyakan cuma tau main-main dan senang-senang aja, dipaksa berpemikiran dewasa. Jadi, terlepas dari wabah zombienya, menurut saya yang ingin disuguhkan oleh sang sutradara dan script writer All Of Us Are Dead adalah tentang konsep sekumpulan remaja yang sedng berproses untuk menurunkan ego mereka, nggak lagi bertindak semau gw, dan mau sama-sama as a team trying to figure things out supaya sama-sama tetap hidup. Salut banget!
Juvenile Justice
Awalnya ragu mau nonton drakor ini karena vibe nya drakor-drakor berat gituloh. Apalagi saya juga kan nonton drakor Kim Hye Soo terdahulu yang judulnya Hyena. Kurang berkesan menurut saya, karena bikin pusing gitu dengan tokohnya yang banyak, kasusnya yang berat-berat, takutnya Juvenille Justice sama kaya gitu juga. Tapi kemudian saya mempertimbangkan ulang ketika tau kalau sutradara drakor ini adalah orang yang dulu menggarap drakor Life dan Dear My Friend. Drakor ini pun dalam waktu singkat berhasil menempati posisi 10 besar drama paling ditonton di Netflix kala itu. Ceritanya juga tentang kenakalan remaja. Masih awam dibahas dalam drakor kan. Di dunia nyata pun tingkat kasus kenakalan remaja terus meningkat setiap tahun. Jadilah saya pensaran dan memutuskan cicip dulu satu episode. Ternyata malah saya bisa menyelesaikannya drakor ini dalam dua hari saja karena udah kecantol dari episode awal. Beneran bikin penasaran terus-menerus sampai nggak bisa nahan diri untuk cepet-cepet ditamatin.
Juvenile Justice mengisahkan tentang hakim wanita bernama Shim Eun Sok yang spesifikasinya menangani kasus-kasus kejahatan anak di bawah umur. Eun Sok memiliki sikap yang dingin, seolah membangun tembok besar kepada semua orang, arogan, kalau ngomong suka tajem, perfeksionis, gila kerja, ya pokoknya nggak asik jadi temen deh, hehehe. Ia sangat membenci para pelaku kejahatan yang masih di bawah umur sehingga terlihat sangat berambisi menegakkan keadilan. Eun Sok dikenal sebagai hakim minim belas kasih dan nggak segan memberikan hukum maksimal kepada terdakwa dalam setiap kasus yang ia tangani.
| Korean Drama Review 2022: Juvenile Justice |
Wah ini drakor parah sih. Gila banget kalau menurut saya ya. Juvenile Justice hanya ada 10 episode dan mengisahkan beberapa kasus berbeda gitu. Nah tiga diantaranya merupakan adaptasi kisah nyata. It made me realize how complicated juvenile cases are. Drakor ini cukup detil membeberkan seluk beluk peradilan anak di Korea. The tricky part is undang-undang yang berlaku kan kalau masih di bawah umur, mereka nggak bisa didakwa dengan hukum pidana. Hal ini kerap membuat para remaja merasa "di atas angin" dan berani melakukan tindakan-tindakan jahat dan brutal selayakanya orang dewasa. Kalau kalian inget drakor Taxi Driver, nah, modelnya mirip-mirip gitu tuh.
Juvenile Justice menyuguhkan contoh nyata yang membuat saya semakin sadar bahwa pendidikan karakter dan pola asuh yang tepat dari orang tua memegang peran yang sangat amat besar terhadap tumbuh kembang anak. Cerita dalam drakor ini akan menampar keras para orang tua maupun calon orang tua. Belum lagi berbagai plot twist yang berhasil menahan kita untuk stay sampai episode terakhir karena kemasan cerita yang begitu tidak terduga. Big applause for all the cast and crew!
Crazy Love
Kalau kalian lagi cari drakor ringan tapi nggak murahan, Crazy Love adalah drakor yang pas untuk dijadikan pilihan. Worthy kok untuk langganan sebulan Disney+ Hotstar demi nonton ini. Drakor ini berhasil membuat Kim Jae Wook lepas dari image dark and dangerous yang udah melekat erat karena peran-perannya terdahulu. Meskipun di awal, image dingin dan angkuh itu tetep ditampilkan, tapi scene-scene romantisnya bersama Krystal tetep bisa bikin shimkoong-shimkoong๐
| Korean Drama Review 2022: Crazy Love |
Crazy Love mengisahkan tentang seorang CEO dari tempat kursus terkenal, bernama Noh Go Jin. Ia tumbuh dari keluarga super miskin sehingga akihrnya tumbuh dewasa dengan ambisi keras untuk menjadi orang kaya. Pokoknya otaknya tuh cuan, cuan, cuan aja mau gimanapun caranya. Kelakuannya yang galak, dingin, dan angkuh menumbuhkkan rasa benci di banyak hati karyawannya. Sampai ada yang suka kirim paket-paket horor berisi ancaman saking dendamnya. Meski begitu, nggak dipungkiri Noh Go Jin ini adalah orang yang sangat amat jenius dan memang terbukti sudah meloloskan ribuan murid untuk masuk sekolah dan perguruan tinggi favorit. Jarang ada sekretaris yang betah kerja sama dia lebih dari 3 bulan. Hanya Lee Sin Ah yang bisa bertahan sampai 1 tahun melayani Noh Go Jin dengan segala tingkah ngeselinnya. Tapi sabarnya orang juga kan ada batasnya yah. Once Lee Shin Ah has reached her limit, dia juga bisa berubah kalut dan berniat pengen bunuh bos sintingnya itu.
Mungkin ini bukan saatnya kita kritis terhadap kualitas akting karena nggak ada karakter cerita yang begitu kuat sehingga membutuhkan kualitas akting memukau.
Namun storywise yang disuguhkan memang mampu membuat para pemain terlihat menonjol dalam peran-peran mereka.
Military Prosecutor Doberman
Twenty-Five Twenty One
Thirty-Nine
Drana ini berhasil membuat saya memaafkan Yeon Woo Jin dan mulai menikmati aktinya lagi, setelah bertahun-tahun memendam benci karena perannya sebagai peselingkuh di drakor berjudul When A Man Loves. Drakor itu padahal udah tayang di tahun 2013 lalu tapi butuh bertahun-tahun saya memaafkan peran nyebelinnya itu. Iya, saya tuh emang jarang mau nonton drama bertema perselingkuhan salah satunya karena takut dendam sama pemerannya seperti yang terjadi dengan Yeon Woo Jin ini. Meskipun saya menikmati drakor Priest dan Marriage Not Dating yang ia mainkan beberapa tahun silam, tapi saat itu saya masih bete sama dia. Nah, pas main di Thirty-Nine ini saya udah nggak bete lagi. Hehehe.
Sesuai dengan judulnya, Thirty-Nine menggambarkan banyak hal yang terjadi ketika orang-orang sudah memasuki usia-usia akhir di era 30an mereka. Drakor ini mengisahkan persahabatan 3 wanita, Mi Jo, Chan Young, dan Joo Hee, yang terjalin secara tak sengaja namun mampu bertahan selama 20 tahun. Bukan sekedar teman biasa, kedekatan mereka udah seperti keluarga kandung di mana orang tua masing-masing udah menyayangi mereka sama rata, begitu juga sebaliknya. Nggak cuma senang-senang belaka, ups and downs kehidupan mereka pun juga udah dilewatin sama-sama. Keresahan salah satu dari mereka turut menjadi keresahan semua. Namun siapa sangka kalau dalam pertemanan mereka, akan ada fase di mana ketiga wanita itu harus menerima kenyataan kalau salah satu dari mereka tidak berumur panjang dan sedang menjalani sisa-sisa harinya yang tidak lama lagi.
| Korean Drama Review 2022: Thirty-Nine |
Ceritanya sangat sederhana, tapi semua pemainnya, bener-bener semuanya, bisa menyampaikan kesederhanaan cerita itu dengan sangat amat baik karena pendalaman karakter yang penuh totalitas. Ya gimana enggak ya, line-up aktor dan aktrisnya kawakan semua. Bahkan some of them adalah orang-orang yang udah sering terlibat dalam proyek teater. Nggak heran sejak episode pertama sampai terakhir, drakor ini nggak luput jadi bahan pembicaraan di sosial media. Tergambar dengan jelas, gimana heart-warmingnya punya temen yang pas orangtua kita sakit, mau sampai gantian jagain, gimana serunya ketika ada satu temen berantem, yang lain ikut ribut untuk belain. Berkat akting mereka, tercapailah niat hati sang pembuat cerita yang ingin memberikan sudut pandang tentang bagaimana memaknai pertemanan, mengejar cinta, dan menciptakan kehangatan keluarga. My biggest appreciation goes to Lee Moo Saeng! Saya sampai tidak bisa berkata-kata. Intinya this badass guy bisa deliver semua emosi dari karakter yang dimainkan itu dengan baik ke penonton. Keren banget! Sayangnya mungkin nggak semua orang bisa menamatkan drakor ini karena temponya yang lambat. Jujur saya juga nontonnya pakai speed 1,5 hehehe. Saran saya sih, coba sabar-sabarin dulu deh di paruh awal. Setelah itu pasti kalian akan merasakan serunya. Kuncinya sabar.
Forecasting Love and Weather
Jujur saya bingung sendiri kenapa saya bisa tamat nonton drakor ini. Mungkin karena saya nontonnya juga dengan metode on-going. Sepanjang nonton pun saya nggak ada nangis, nggak ada shimkoong, nggak ada kesan apa-apa juga setelah menyelesaikan episode terakhir. Meskipun saya berhasil nonton sampai tamat, saya nggak akan masukin drakor ini ke list saya kalau ada orang yang minta rekomendasi drakor.My Liberation Notes
Another slow-pace series that I didn't regret to finish. Waktu nonton 4 episode pertama, jujur saya sempet mikir nggak akan lanjut karena alurnya sangat lambat. Akhirnya pakai jurus andalan saya, nonton dengan speed 1,5x dari normal. Itu juga masih agak terasa lambat, cuma lagunya aja yang jadi up-beat wkwk. Setelah lewat 4 episode, speednya saya turunin ke 1,25x. Namun, setelah episode 8, saya malah sangat-sangat menikmati setiap detik yang saya habiskan untuk nonton episode ke episode hingga tamat. Saya nikmatin lambatnya alur cerita dengan tenang, seolah nggak mau momen saya dengan drakor ini cepet berakhir.
Another simple storywise that I didn't mind to follow. Drakor yang minim dialog tapi bisa meninggalkan kesan begitu mendalam lewat ekspresi dan gerak gerik.
Karakter Lee Min Ki di sini mengingatkan saya sama film dia yang judulnya Ordinary Couple. Peran dia di film itu kan juga agak serampangan dan ngomong se-suka2nya.
I really really reallyyyy love Mr. Gu's character. Pemilihan Son Seok Koo sebagai pemerannya terasa begitu pas dari segala aspek. Tampangnya yang cocok jadi orang kaya maupun orang desa. Tatapan matanya yang bisa bicara, senyumnya yang manis walaupun irit, warna suaranya yang nggak berat tapi khas. Kalau temen saya nggak ngasih tau, entah sampai kapan saya akan terus mengira si main lead di My Liberation Notes ini adalah orang yang sama dengan main lead di Sisyphus. Damn, they look so similar!
Soundtrack No.1
Our Blues
Tomorrow
Money Heist: Joint-Economic Korea
Yumi's Cell 2
Sekuel Yumi's Cell ini juga sebenernya salah satu alasan saya menunda perilisan konten Korean Drama Review saya hehehe. Maksudnya pengen sekalian masukin dia juga di review paruh awal.
The King of Pigs
Monstrous
Pachinko
Tentunya diantara sekian banyak drakor yang berhasil saya tamatkan, ada banyak juga drakor yang nggak berhasil menggiring saya hingga tetes terakhir. Saya sengaja tetap menuliskan judul-judulnya di Korean Drama Review 2022 ini, untuk menjelaskan hal-hal apa yang membuat para drakor ini nggak menarik, from my point of view. Harapan saya sih kalian bisa give them a chance and watch them in a different perspective (or with different speed, hehe). Siapa tau aja, salah satu dari mereka malah jadi most favourit kalian tahun ini๐
Konsep ceritanya yang tentang Mathematician sih memang unik. Saya sih merasa excited ketika nonton satu episode pertama, melihat mereka menggunakan logika matematika untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan angka. Sayangnya dibalik konsep unik, diselipkan konsep percintaan yang menurut saya aneh yang sulit saya terima. Guru perempuan punya love line sama muridnya tuh aneh sih. Murid yang masih SMA pula. Sorry to say, tapi saya merasa agak "gelaaay" aja gitu. Mungkin karena saya juga guru ya. Jadi secara nggak langsung ngebayangin saya yang ada di posisi itu.๐ต Makanya saya nggak lanjutin lagi.
Bulgasal
Jujur ya, episode pertama dan kedua Bulgasal bagus banget-bangetan, tapi durasi per episodenya kepanjangan. Pas udah mulai masuk episode ketiga jadinya udah kadung bosen dan nggak sanggup nerusin lagi. Alasan nggak lanjutnya beneran karena itu doang sih. ๐๐
Snow Drop
Udah 3 tahun terakhir saya lagi berusaha untuk menghindari pembajakan sebisa mungkin. Jadi untuk nonton ini, saya sampai effort tuh untuk langganan Disney+ sementara. Sialnya, platform itu ternyata nggak bisa nonton pakai speed cepet, sedangkan jalan cerita Snowdrop tuh lumayan lambat. ๐ Mana nontonnya harus di laptop kan karena nggak bisa dari TV. Saya harus melewati dua kali ketiduran dulu baru bisa menyelesaikan episode pertamanya. Yaudahlah nyerah aja akhirnya dan minta diceritain aja endingnya sama yang udah nonton ๐
The Sound of Magic
Business Proposal




No comments:
Post a Comment