Haloooo warga Blogger dan penikmat dunia maya lainnya.
Ikut saya cerita ngalor ngidul lagi yuk. Seperti judulnya yang panjang, cerita inipun dijamin bakalan panjang seperti sinetron India. Karena sudah kadung menumpuk bahan cerita ini, saya jadi bingung memulai ceritanya harus dari mana. Meski begitu, hari ini saya sudah mantap untuk menyelesaikan tulisan panjang yang hampir tiga bulan terakhir belum bisa saya akhiri. Semoga dengan berakhirnya tulisan ini, berakhir pula gundah gulana, galau-galau dan ratapan sedih yang mendekam di dasar hati. Btw ada nama yang disamarkan untuk kenyamanan bersama. Tapi yah orang-orang yang kenal saya, pasti tau kan nama orang yang dimaksud, hehe.
Semua bermula dari satu masalah, kemudian ditambah lagi masalah lain dan lain dan lain dan lain lain lain, hingga menumpuk dan luber-luber. Tadinya saya percaya banget kalau segala situasi dan masalah dalam rumah tangga itu pasti bisa dilewati asal masalahnya bukan tentang perselingkuhan. Ternyata bukan hanya itu, sodara-sodara. Pernikahan juga terancam kandas ketika kedua belah pihak tidak kompak dalam mempertahankan, atau ketika api cinta dalam rumah tangga itu tidak lagi membara. Nah, dalam rumah tangga saya, kedua faktor itu terjadi.
Awalnya, Januari 2019 F mulai sering mengeluh lelah akan pekerjaannya. Tau sendirilah gimana capeknya kerja di dunia TV. Dia juga pernah bikin kesalahan yang fatal di kantor sehingga kena SP2 dan temen-temennya jadi punya pandangan berbeda tentang dirinya. Alhasil, pressure kerjaan yang tinggi ditambah situasi kerja yang jadi nggak enak itu semakin membuat dia nggak betah. Saya sudah coba ingatkan, "Kalau kamu sudah tidak nyaman di situ, coba aja cari-cari pekerjaan lain". Btw, F masih pegawai kontrak di RCTI dan masa kontraknya akan berakhir Desember 2019, jadi memang baiknya prepare for the worst juga dari jauh-jauh hari kan takutnya kesalahan yang pernah dia lakukan akan berdampak pada perpanjangan kontraknya.
Waktu terus berjalan. Januari berlalu.. Februari.. Maret.. April.. and then, like a blink of an eye, tau-tau udah sampai di akhir bulan Agustus. Suatu hari managernya, mas H, manggil dia beserta section headnya, mas A, untuk berdiskusi perihal perpanjangan kontrak. Saya parafrase aja ya hasil diskusinya. Jadi si mas H nanya tentang kesan-kesan F di divisi yang sekarang. Lalu, F dengan polosnya langsung jujur kalau dia emang nggak mau lagi di divisi tersebut dan maunya dipindah ke divisi lain. Dia nyebutlah 2 divisi yang dia mau tanpa cari tau dulu apa divisi itu ada lowongan kosong atau nggak. Mas H kaget denger omongan F tapi beliau appreciate kejujurannya. Memang mas H ini juga melihat kalau F nggak seneng kerja di divisi itu. Nggak ada raut gairah tiap ke kantor, badannya makin kurus dan kinerjanya tidak menunjukkan perubahan signifikan. Mas H bilang F selanjutnya harus ngomong ke HRD, nanti juga beliau akan bantu sampaikan ke HRD perihal keinginan F pindah divisi. Section headnya, mas A, yang tadinya mau backup dia di depan manager supaya bisa tetap di divisi yang sekarang, jadi ngerasanya "oh yaudah, anaknya juga emang udah nggak mau". Sampai di situ saya udah merasa kecewa. Kok bisa dia belum make sure lowongan ke divisi lain tapi tau-tau udah ngomong mau pindah aja ke managernya. Gambling banget. Kalau saya jadi manager F, denger dia udah ngomong gitu ya saya bakalan lepaslah anak buah itu. Ngapain saya pertahankan? Tapi di situasi ini saya masih coba untuk kalem dan menyimpan komentar saya dalam hati.
Hari-hari berlalu lagi. Saya udah ingetin berkali-kali untuk datengin HRD nanya kepastian, tapi dianya ntar-sok-ntar-sok melulu dengan alasan sibuk dan maunya nunggu dipanggil. Nggak kerasa nunggu-nunggunya udah kelamaan sampai sebulan, tau-tau kalender udah menunjukkan tanggal 30 September. Akhirnya F nyempetin diri untuk datang ke HRD. Dalam kesempatan itu, dia mengutarakan 4 poin ke HRD nya: tentang kepastian kontrak, kemauannya pindah divisi, penilaian di divisi lama dan apa yang dia rasain di divisi lama. HRD bilang saat itu hasil penilaian kerjanya masih dalam tahap review dari managernya dan belum sampai ke meja HRD. Sampai penilaian itu selesai dibuat baru HRD bisa memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap kontraknya. Kemungkinan untuk pindah divisi memang ada asalkan di divisi yang dia mau ada spot yang kosong dan butuh diisi. Nanti sistemnya akan seperti ngelamar kerja lagi, kirim CV dan interview. Tapi tetap aja harus nunggu hasil penilaian dulu. Kalau hasil penilaiannya bagus, bisa jadi pertimbangan untuk manager di divisi baru. Lalu si HRD nanya, "Kalau di divisi yang dia inginkan ternyata no vacany dan diperpanjang aja di divisi yang sekarang, gimana?" F jawab kalau minatnya di divisi lama udah berkurang. HRD nya nanya lagi, "Kalau gitu, apa ada kepikiran resign?" Dengan lempengnya F jawab iya.
Di moment inilah saya shock dan meledak. Gokil. Beneran nggak abis pikir gitu. Bisa-bisanya dia belum ada backup pekerjaan lain tapi udah nantangin HRD dengan bilang kalau mau resign aja kalau nggak bisa pindah divisi. Lo kira HRD kaya kekurangan calon pelamar kerja sampai mau mempertahankan orang kaya lo? Kalau lo pekerja berprestasi yang jenius banget sih bisa aja HRD bakalan ngemis-ngemis nahan dan ngasih kenaikan gaji atau fasilitas. Lah, ini? Udah kerja ampir dua tahun banyak telatnya, kerjaan yang kecil-kecil aja banyak salahnya, apa yang mau diharapin? Ketika saya mulai emosi, defense nya F cuma bilang kalau dia udah begah banget di divisinya. Dia yang penting udah ngerasa lega bisa mengutarakan apa yang dia rasakan dan apa yang mengganjal di hatinya selama ini kepada HRD. Hasilnya mau gimana nanti ya Bissmillah aja lah. Daripada kerja nggak berkah, nanti ujung-ujungnya dia takut nggak bahagia. Lahhhh? Lo kira lo masih bujangan yang bisa seenaknya nganggur karena capek kerja? Trus nyari kerja juga nggak gigih, pas udah abis kontrak, lo mau galer-galer aja di rumah cuma karena "begah di kantor" ?? (excuse my language). What the fuck did he just think? (excuse me again). Maksud saya itu ya kalau udah nggak mau ya gak apa-apa tapi kan bisa dong ya mas, sampai ada pekerjaan baru, sabar-sabarin aja dulu gitu di sana dan bilang ke HRD nya kalau saya masih mau kerja di sini, masih butuh pekerjaan ini bla bla bla, at least pakai bahasa yang lebih merendah, jangan kaya nantangin gituuu.. Nanti kalau emang udah dapet kerjaan baru ya tinggal cabut aja. Kontraknya juga kan nggak mengikat.
Saya menanyakan apa sebenarnya rencana dia, sampai berani ngomong mau resign sama HRD. F dengan santainya bilang mau buka usaha kuliner sama temennya di bulan Januari, tapi modalnya pakai duit temennya sekitar 50an juta, dia nantinya cuma akan jadi pengelola. Terus berubah lagi jadinya mau jualan jus di rumah mama saya. Abis itu ganti lagi mau minta dicariin murid aja untuk ikut ngajar juga sama saya karena dia liat saya ngajar kayanya enak bisa dapet duit lumayan. Ketika saya mempertanyakan lebih jauh tentang semua rencana itu, dia selalu kasih jawaban mentah. Otomatis saya jadi mendebat, karena saya mau dia menggali lebih dalam konsep dan perencanaan yang mau dibuat, jangan seolah seperti main-main gitu. Karena selalu disanggah, saya jadi dibilang nggak support dia. Egonya F sebagai lelaki kesenggol karena dia kalah terus adu bacotnya.
Saking jengkelnya sama F yang nggak jelas arah hidupnya ini, saya jadi nyerocos panjang lebar. "Kamu tuh kebiasaan apa-apa hidup enak. Apa-apa disedian sama mama papa. Kamu kebiasaan minta dan disuguhin. Nggak suka dikit, ditinggalin. Gasuka dikit, minta ganti. Semangat juangmu masih cetek banget dalam hidup. Sorry ya kalau aku ngomong kaya gini, karena aku rasa nggak ada lagi orang yang berani ngomong gini ke kamu. Aku cuma mau kamu sadar aja, hidup itu emang keras. Pilihannya tinggal kamu mau jadi lembek dan lama-lama tergerus kehidupan atau jadi lebih keras supaya bisa lewatin badai? Kamu dua tahun di RCTI, bersusah-susah, capek mental dan fisik, ilmu apa yang akhirnya kamu bawa? Kerjaanmu cuma ngeluh aja, tapi ada nggak ilmu yang bisa kamu ambil untuk jadi bekal setelah keluar dari sana? Bulan lalu dipanggil Manager dan di kasih note kaya gitu harusnya kamu sadar diri, kamu tuh udah pernah bikin salah fatal pun masih aja nggak ada progres perubahannya. Emang mau sampai kapan kita hidup dalam finansial yang nggak ada ketenangan karena kamunya masih nggak jelas gini? Terus mau bikin usaha sama temen kamu, mau mulai 3 bulan lagi, tapi sampai sekarang itung-itungan dan planningnya aja masih jauh dari 75% dikerjain. Kamu pakai uang orang, kalau nanti rugi, mau ganti uangnya pakai apa? Aku bukannya nggak support dan ga doain kamu, tapi kamu harusnya mikir jauh ke depan. Aku tuh mikirin konsekuensinya dulu baru mikir seneng-senengnya. Sekarang kamu ngelamar pekerjaan di sekian banyak tempat tapi nggak ada yang manggil, udah evaluasi diri belum kenapa bisa nggak dipanggil-panggil? Apa yang bikin kamu nggak se-spesial itu untuk dipanggil dibanding ribuan orang lainnya yang sama-sama nyari kerja juga? Kamu tuh hanya fokus sama sakit hatimu, capekmu, tapi nggak fokus nyari jalan keluar. Mau nunggu papa cariin kerja? Nunggu mama kasih koneksi? Kamu sudah menikah harusnya jalan pikirmu nggak se-cetek itu. Kamu udah sia-siain waktu kamu pas masih bujangan yang harusnya kamu pakai untuk membangun hidupmu. Sekarang kamu mau sia-siain waktu aku juga untuk nungguin kamu yang mikirnya lama? Kamu cuma sibuk mikir kamu ngalah untuk tetap bertahan di RCTI demi hidupin aku, apa aku pernah ngeluh ke kamu kalau pelan-pelan aku harus memupus impian aku punya anak dalam waktu dekat, karena sampai sekarang kepala rumah tangga di keluargaku ini aja masih milih-milih mau kerja apa. Aku juga capek. Lelah juga aku sama hidupku, aku juga mau istirahat kalau bisa. Aku juga mau enak-enak. Aku berjuang untuk diriku sendiri, dan ada mama dan adik ku juga yang harus aku pikirin."
Suatu malam, masih akibat pembahasan yang sama, kami bertengkar hebat dengan intonasi sama-sama keras. F nggak mau kalah jawab banget, sehingga argumen saya selalu dijawab dengan jawaban yang mentah , yang penting selalu ada jawaban. Saking nggak mikirnya, keluarlah kata-kata yang nggak seharusnya diucapkan. Saya sudah sangat lelah saat itu karena abis ngajar sampai jam 11 malam dan saat pertengkaran itu berlangsung, waktu udah menunjukkan lewat pukul 12 malam. Saya bilang, " Udahlah, sekarang udah aja, nggak usah ngomong lagi. Capek aku. Mending kita nggak usah ngomong lagi. Besok kalau udah ada jawaban baru yang lebih masuk akal untuk mendebat pendapat aku, baru kita ribut lagi". F nggak terima, dia maunya kita ributin sampai selesai kemudian kembali baik-baik dan sayang-sayang lagi seolah nggak ada apa-apa, kemudian dia bilang, "Yaudah kalau kamu nggak mau ngomong lagi sama aku, sekalian aja kita nggak usah ketemu sampai aku punya kepastian". Berasa ditantangin dan kebawa emosi, saya jawab, "Yaudah kalau gitu". Saya yang udah dalam posisi tidur pakai daster peluk bantal jadi berdiri dan siap-siap ambil baju. Saat itu F tarik lengan kiri saya lumayan kencang dan menggenggam dengan kuat sampai lengan saya jadi biru.
Mungkin ini hal yang kalian kira masih dalam tahap wajar. Akan beda jadinya kalau saya buka cerita lama bahwa waktu jaman pacaran sesungguhnya F pernah dua kali menyakiti saya secara fisik. Waktu pertama kali, karena ketahuan selingkuh dan saya marah-marah, seperti kejadian yang saya cerita tadi juga, dia nggak mau kalah dalam argumen jadi akhirnya selalu ngejawab nggak pakai mikir. Ketika saya udah berkeras mau putus, saya turun dari mobilnya, dia kejar saya, then he grabbed my right arm so hard and when I screamed he grabbed it harder until it bruised for a month. Kedua, dengan kasus yang sama, ketika saya mendapati lagi dia berselingkuh dan saya marah, dia nggak terima dan mulai kasar lagi, bahkan lebih kasar dari kejadian yang pertama. Dia jambak rambut saya sampai rontok, dia cekik saya, mendorong saya sampai punggung saya kepentok rak bajunya dan membekas biru. Saksinya ada adiknya yang cowok dan PRT di rumahnya. Karena sudah pernah ada dua kejadian ini, pastinya kalian nggak akan melihat kejadian lengan saya biru sebagai hal biasa kan?
Setelah F menarik lengan saya, dia mendorong saya dan gerak geriknya seperti mau jedotin saya, di saat itu saya mulai menangis karena saya teringat jelas kejadian sebelum-sebelumnya. Yang ada di pikiran saya saat itu, saya harus segera keluar dari kamar, berada di tempat terbuka jadi lebih aman untuk berteriak minta tolong kalau dia mau lanjutin kasarnya. Saya buka pintu kamar, dan saya segera ambil tas dan sweater, udah siap mau pergi aja. F mulai panik karena lihat saya udah siap-siap pergi. Mendadak F jadi lembut dan menahan saya untuk jangan pergi tapi saya yang -udah panik campur takut sambil nangis-nangis itu- berkeras ingin pergi. Dia sempet bilang, "Aku nggak izinin kamu pergi, kalau suami nggak izinin, Allah nggak ridha, nanti kamu dosa". Masih berani bawa -bawa Tuhan, udah nyata-nyata dia yang kasar. Di luar kamarpun masih ada perdebatan karena tapi ketika saya melangkah pergi turun tangga, dia sama sekali nggak mengejar. Saya minta tolong satpam untuk anterin saya ke rumah mama saya yang kebetulan hanya 2 gang dari tempat tinggal saya dan F. Saya takut jalan sendirian karena saat itu sudah hampir jam 1.30 dini hari.
Mama dan Michelle yang kebangun kaget karena pagarnya diketok-ketok tengah malam, langsung nyuruh saya masuk dan menenangkan saya yang masih nangis-nangis dengan memberi segelas air. Ketika mereka lihat bekas memar di lengan kiri saya, mama mulai menangis dan memeluk saya kemudian mama bilang, "Sudah, sudah, sekarang Olive tenang aja di sini, bobo lah, atau mau makan?". Michelle yang jadi geram sudah siap-siap pake baju, kalau sampai F dateng nyusul mau dia pukulin. Mama berusaha tenang walau dalam hatinya saya yakin dia terluka. Mama aja selama ini nggak pernah kasar sama saya, mana mungkin dia rela lihat anaknya dikasarin orang lain. Setelah saya mulai tenang, mereka minta saya menjelaskan kronologis kejadiannya.
Saya memutuskan untuk nginep aja di rumah mama sementara waktu. Saya nggak mau lagi kembali bersama F karena takut akan ribut dan dikasarin lagi. Pagi harinya ketika sudah memastikan dengan penjaga kalau F sudah berangkat kerja, saya pulang sebentar untuk ambil baju dan perlengkapan yang penting-penting lalu kembali ke rumah mama. Sehari dua hari berlalu, F sama skali nggak nyariin. No calls no texts. Sampai udah hari ke 4 kalau nggak salah, dia baru chat saya dengan seolah-olah nggak ada apa-apa. Nanya saya lagi ngapain, kabarin kalau dia abis sarapan sama mamanya dan bilang nanti sore-sorean mau dateng ke rumah mama saya untuk jemput. Saya nggak memberi respon karena kecewa baru dicari setelah 4 hari dan saya juga enggan kembali serumah dengannya. Ketika dia datang, F hanya bertemu mama dan Michelle. Mama murka banget pas lihat dia. Habislah F kena omel dari mama saya, bahkan Michelle pun yang selama ini selalu diam dan nggak pernah ikut campur, kali ini angkat bicara. Setelah saya rasa cukup puas dia dimarahin barulah saya berpikir kalau harusnya saya juga nggak nyerah secepat ini. Saya kasih kesempatan lagi dengan menentukan syarat. Saya mau kembali tinggal dengannya apabila dia membuat surat perjanjian tidak akan kasar lagi dan harus ditandatangan di atas materai. Sempat mempertanyakan kenapa harus seperti ini namun saya saklek dengan permintaan saya. Mau atau nggak dia tinggal pilih. F akhirnya menyanggupi, Maka sayapun pulang kembali ke rumah bersama F meski masih ada rasa was-was dan tidak sepenuhnya nyaman. Saya memutuskan untuk mengusahakan pernihakan ini kembali.
Eittts... Ceritanya tapi belum selesai sampai di situ, kawan-kawan.. Ini baru ending bagian pertama. Lanjutannya saya sambung di part kedua ya supaya kalian bacanya bisa istirahat dulu. Sengaja saya buat part 1 dan part 2 biar yang baca nggak blenger. Tarik napas, minum dulu, ngademin kepala dulu, kali aja ada yang kepalanya mulai panas setelah baca cerita panjang. Bagian kedua akan segera hadir di layar kaca dunia maya anda. See you guys in a bit.

Greget ya
ReplyDeleteTahan sobat. Realita terkadang memang begitu kejam.
Delete