Friday, January 24, 2020

The Risks of Settling Down with What's Less Than I Deserve (part 2)



Hello again !! Kembali bersama saya di cerita panjang bagian kedua.

Kemarin sudah sampai di mana ya ceritanya? Oh iya untuk yang belum baca bagian pertamanya, bisa tengok di sini ya.

Cerita kali ini akan diawali dengan sedikit flashback tentang yang terjadi di hari Minggu, 5 Januari 2020.

Pada tanggal ini, mungkin ada orang yang tengah berbahagia karena baru gajian, baru ditembak gebetan, menikah di pulau dewata, atau mungkin sekedar senang karena bisa menghabiskan hari minggu nya dengan bersantai-santai nonton Netflix dan makan pizza.

Ada juga segelintir orang yang mungkin di kala itu tengah merasa bangga akan sebuah pencapaian. Bangga karena naik jabatan, karena skripsinya di acc dosen tanpa revisi, atau sekedar bangga hasil masakannya dipuji mertua.

Atau bisa jadi ada orang-orang yang hari itu sedang dirundung sedih. Mungkin karena cuaca tak kunjung cerah sehingga cucian nggak kering-kering, atau karena baru saja kehilangan dompet, atau kesedihan yang lebih mendalam karena harus merelakan orang terkasih berpulang ke pangkuan Tuhan.

Bagi saya, tanggal 5 Januari 2020 adalah hari yang menyisipkan banyak rasa dan bercampur aduk menjadi rasa yang tidak terdefinisi. Ketika cuaca sedang dingin dan langit terlihat mendung, saya dan F, dihadapan orang tua kami, telah sepakat untuk berpisah. Pertemuan itu dimulai dan berakhir dengan damai, tenang, tidak ada pertengkaran. Entah apa isi hati masing-masing orang yang hadir di forum itu selepas mengucap perpisahan. Tapi yang pasti semuanya berjalan dengan baik-baik dan tanpa ada dendam. 




Jadi inti dari pembahasan panjang nan lebar ini adalah saya kepengen cerita kalau pernikahan saya yang masih seumur jagung, harus berakhir lebih cepat dari yang sempat dibayangkan. Hehe, kaget ya bacanya? Sama. Saya juga masih antara sadar dan mimpi kalau sebentar lagi harus jadi janda.

Saya sengaja nggak langsung update cerita ini sejak masalah baru muncul di permukaan karena banyak pertimbangan. Saya ingin hasil tulisan ini tidak berakhir dengan terlalu menyudutkan F. Biar gimana, masalah dalam rumah tangga ini bukan sepenuhnya salah dia tapi kesalahan berdua. Meski begitu, rasanya agak sulit ya menulis cerita macam begini dengan pandangan yang objektif. Tetap aja tulisan ini jadinya berakhir dengan sangat subjektif setelah saya melihat hasil tulisan part pertama kemarin itu. Tulisan yang sekarang juga pasti bakalan sama subjektifnya. Pertimbangan lain adalah saya tuh maunya menulis cerita ini ketika memang udah bener-bener fix akan bercerai, bukan ketika baru niat atau baru ribut-ribut aja. Honestly, deep down inside, meski hanya tersisa sayup-sayup di dasar hati, saya ingin pernikahan ini tidak berakhir. Setidaknya tidak secepat ini lah. Tapi kali ini saya bisa pastikan sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali dan kesempatan dia memperbaiki semuanya juga sudah habis.

Di bagian pertama cerita memang saya nulis kalau saya mau membenahi kembali apa yang salah kemarin-kemarin. Saya pulang lagi ke rumah, tinggal lagi sama F setelah dia menyetujui tanda tangan surat di atas materai. Namun yang ternyata terjadi adalah hati saya berontak. Tak disangka-sangka, sejak saya melangkahkan kaki meninggalkan F malam itu, saya juga meninggalkan semua rasa saya untuk dia. Ketika kembali pulang, semua benar-benar berbeda. Bukan hanya tentang rasa aman, tapi juga rasa cinta, sayang, nyaman, dan rasa ingin memiliki. Kalau istilah anak jaman sekarang tuh ilfil. Saya jadi ilfil sama suami sendiri. Ditambah lagi saya jadi susah tidur sejak hari pertama kembali ke rumah. Saya sering tiba-tiba nangis sendiri padahal lagi nggak ada apa-apa. Saya nggak nafsu makan. Saya merasa seperti orang patah hati padahal saya bukan abis putus cinta. Dan puncaknya saya sering pusing dan hampir setiap hari mimisan. Sudah ke dokter tapi dokter bilang tidak ada kelainan apa-apa, saya hanya kelelahan dan stress.




Hari demi hari saya coba jalani. Batin saya seolah terpecah menjadi dua kubu yang saling tengkar. Di satu sisi saya berusaha untuk lekas sembuh dari trauma dan sedih akibat kejadian tempo hari itu. Saya nggak boleh dong berlama-lama gloomy gini, karena kasihan F. Situasi ini akan terasa nggak adil baginya karena saya sudah buang kata untuk kembali ya harusnya saya komit kan. Harus kembali biasa-biasa aja, bahagia lagi, sayang-sayangan lagi sama F. Sisi lainnya hati saya nggak terima dipaksa-paksa. Saya lelah harus memalsukan setiap tindakan afeksi bahkan sesimpel bilang I love you. Pelukan, ciuman, belaian, bahkan hubungan suami istripun semua rasanya hambar dan tidak lagi nyaman untuk diberikan maupun diterima. Rumah tidak lagi terasa rumah. Jadwal mengajar sengaja saya penuhin sampai jam 11 malam agar ketika pulang sudah lelah dan langsung tidur. Biasanya saya paling senang kalau ada cancel class dan bisa pulang lebih cepat tapi sekarang kalau bisa pulang cepat saya milih ke rumah mama saya dulu untuk ngobrol-ngobrol lalu pulang ketika sudah nyaris jam 12 malam. Dua sisi hati yang terus mau dimenangkan itu bikin saya lelah. Saya merasa seperti depresi tapi nggak tau pasti juga gejala depresi yang sesungguhnya itu kaya gimana jadi nggak berani claim kalau saya mengalami depresi.

Saya akhirnya berterus terang kepada F tentang apa yang saya rasakan. Saya jujur bahwa saat itu saya merasa muak, mumet, hambar dan segala perasaan saya lainnya. Saya bilang kalau saya stress dan saya butuh cara untuk bisa menenangkan diri. Ini kan tentang rumah tangga, saya merasa dia harus tau karena kami harus cari solusinya berdua. Jawaban yang saya terima darinya adalah... "Aku ngerti apa yang kamu rasakan. Yang bisa membolak balik hati manusia itu cuma Allah. Aku hanya bisa tetap menjadi seperti aku apa adanya, jadi suatu saat kalau hatimu udah kembali lagi seperti dulu, aku masih seperti aku yang kamu kenal dan kamu cintai" WTF. What kind of anwer is that? Setelah mendapat jawaban itu, sehari semalem saya nggak berhenti menangis. Saya kecewa berat. Secara nggak langsung saya menangkap maknanya kalau dia maunya saya sembuh sendiri dan kembali ketika semua sudah bisa diatasi. Saya jadi semakin stress dan mulai nyalahin diri sendiri, menyesali keputusan menikah, membodoh-bodohi diri sendiri kenapa pililh pasangan seperti ini, nyesel udah terlalu cinta, nyesel terlalu positif thinking sama laki-laki, pokoknya nyesel, nge-blame, maki-maki diri sendiri, nyalahin diri sendiri, sampai akhirnya makin terpuruk sendiri.

Balada F mencari kerja juga belum usai. Kontrak kerja di RCTI akhirnya tidak diperpanjang. Walaupun ada satu divisi yang mau menerima dia bekerja, tapi ternyata keputusan perpanjangan kontrak itu tidak dilanjutkan berdasarkan kebijakan HRD. Jadi pihak HRD yang memang tidak mau lagi mempekerjakan F. Saat itu menurut laporan F ke saya sih, dia sudah berusaha menyebar lamaran ke perusahaan-perusahaan tapi belum ada yang nyangkut. Sempet beberapa ada yang dipanggil interview tapi belum rejeki. Ayah dan ibunya juga sibuk cari-cari koneksi dari relasi supaya F bisa dapat pekerjaan.

Suatu hari papanya telepon saya. Kira-kira isi pembicaraannya begini : "Olive, F kapan sih terakhir kerja di RCTI?", "Kontraknya habis tanggal 31 Desember pah", "Terus kapan terakhir terima gajinya?", "Aku kurang tau pasti pah, tapi tanggal gajian sebelum-sebelumnya sih setiap tanggal 25" "Iya nih, papa belum dapet juga kerjaan untuk F. Papa udah minta ke temen-temen papa tapi belum ada jawaban. Yaudah nanti kalau Januari F belum dapet kerjaan nanti papa bantu dulu transfer deh 5 juta seperti gajinya di RCTI tiap bulan. Jadi Olive nggak usah khawatir" Mendengar papanya bilang begitu, justru saya malahan yang jadi khawatir. Kenapa harus dibantu? Kan F udah jadi kepala rumah tangga. Kenapa masih harus dinafkahi orang tuanya? Kenapa orang tuanya nggak ngajarin dia mandiri? Lalu saya bilang ke F soal pembicaraan saya di telepon itu dengan papanya dengan maksud supaya F bicara sama papanya nggak usah begitu. Reaksi F malahan santai banget, "Yaudah, kan bagus dong papa mau bantu?"

Akhirnya dapet sih kerjaan baru hasil koneksi dari papanya. Namun divisi yang membutuhkan pegawai adalah divisi yang jobdesknya dia tidak sukai. Mirip-mirip seperti di RCTI, pekerjaan yang butuh pencapaian target. Udah ya saya nggak usah ceritain apa yang selanjutnya dia request ke papanya ketika dia merasa nggak sreg sama kerjaannya. Nanti yang baca jadi kesel.


F memang masih manja dan lingkungan keluarganya pun mendukung hal itu. Saya merasa ini situasi yang berbahaya. Nggak bener ini kalau sampai nanti saya harus dikasih makan sepenuhnya pakai uang bapaknya andaikan F nggak dapat pekerjaan, sementara papanya itu masih punya tanggungan anak kecil usia 3 tahun yang jelas-jelas masih jauh lebih membutuhkan uang untuk keperluan sehari-hari. (FYI, mama papanya F sudah berpisah sejak 2013 setelah 25 tahun membina rumah tangga. Sekarang mereka sudah punya keluarga masing-masing, papanya bahkan sudah punya anak lagi yang usianya saat ini 3 tahun) Kalau kaya gini sih mending dia balik aja jadi anak, jangan jadi suami. F harusnya sadar kalau buaian orangtua nya ini bisa jadi boomerang ketika mereka udah nggak ada. Lagi-lagi bahan pikiran saya jadi nambah gara-gara ini. Makin stress, makin sering mimisan, makin susah tidur. Yaudah jadi saya memutuskan untuk pisah rumah dulu dengan F.

Awalnya tuh sekitar akhir November memang kami udah berencana pindah berdua ke apartemen daerah Tangerang Selatan yang bisa ditempati karena saya bekerja di sebuah kantor as a freelancer. Apartemen itu bisa kami tempati tanpa bayar sewa, hanya bayar service charge dan listrik air sesuai pemakaian saja. Akhirnya plan berubah jadi saya pindah sendiri ke sana dan saya minta dia kembali ke rumah orangtuanya. Saya bilang sebaiknya kami berdua mikir dulu sendiri-sendiri. What went wrong, how was our feeling and how to fix all of  these. Bisa aja setelah kami pisah rumah, saya jadi mikir kalau ternyata saya nggak bisa kehilangan dia dan saya masih ada rasa cinta untuk dibina. Atau sebaliknya bisa aja setelah pisah rumah F jadi berpikir kalau sebenarnya memang dia belum siap jadi kepala rumah tangga. Tentu keputusan ini tidak diterima dengan mudah oleh F, ada lagi cek-cok nya, tapi saya berkeras mau pisah rumah, karena kalau tetap dalam kondisi seperti ini, saya udah nggak kuat lagi. F akhirnya mengalah dan ikut apa mau saya. Berat hati pastinya, saya tau.

Dua hari sebelum rencana kepindahan saya, mamanya F minta waktu untuk ketemuan. Mamanya sudah dengar tentang keinginan pisah rumah yang saya ajukan ke F dan mamanya berusaha membujuk saya untuk mengurungkan niat itu. Awalnya ia mengingatkan bahwa dosa besar ketika istri meninggalkan suami dan karena kita nggak pernah tau kapan akan meninggal, jangan sampai nanti saya meninggal dalam keadaan memikul dosa besar. Lalu saya coba jelaskan apa yang terjadi dan apa yang jadi pemicu saya mengambil keputusan ini. Mamanya paham dengan apa yang saya rasakan karena mamanya bilang sifat dan kelakuan F sangat mirip dengan kelakuan papanya. Mamanya bilang, "F itu mirip skali dengan kelakukan papanya. Flat aja gitu. Tidak aktif. Ibarat di sekolah, F tuh murid yang dari dulu cuma bisa dapat nilai 7 di ulangan dan tugas-tugas. F tipikal anak yang nggak bisa dikasih target, nggak bisa dituntut kerja dengan kreatifitas dan skill, dia hanya bisa disuruh A yang dikerjakan A, kalau disuruh B ya dikerjakan B. Mungkin di RCTI dia nggak survive karena di sana dibutuhkannya orang-orang yang nilainya 9. Nah Olive nih mama liat anaknya yang udah sering dapat nilai 9, mau maksain F untuk bisa naik nilainya minimal 8 aja udah susah banget, mau nggak mau Olive yang harus menurunkan ekspektasi dan lebih banyak mengalah". Kemudian saya bilang ke mamanya "Yah ma, kalau nggak bisa dikasih target, gimana ya ma, hidup aja kan perlu target. Berarti sama aja mama bilang saya harus terima hidup sama F hanya jalan di tempat dong. Punya anak kan juga target, mendapatkan penghidupan yang lebih baik juga target". Mamanya hanya menjawab, "Ya F emang gitu orangnya. Take it or leave it".

Saya bertanya bagaimana selama ini kedekatan papanya dengan F karena saya lihat sepertinya F tidak punya figur bapak, atau figur laki-laki yang jadi panutan. Sebagai laki-laki F terlalu lembut dan kurang semangat juang. F juga pernah cerita dia kurang nyaman berteman sama laki-laki karena nggak cocok gaya bercanda dan pembahasannya. Mamanya bercerita kalau memang papanya selama ini tidak dekat dengan anak-anaknya. Papanya selalu beralasan sudah lelah bekerja sampai malam jadi tidak merasa perlu andil lagi dalam mengurus, mendidik dan memberi perhatian kepada anak. Tiap kali mamanya menuntut papanya untuk ikut andil dalam mengurus anak atau sekedar memberi perhatian lebih seperti pelukan atau menanyakan kabar, hal ini selalu dianggap oleh papanya sebagai alasan karena uang bulanan kurang. Mendengar hal itu, saya bilang ke mamanya, "Lalu kalau F mirip dengan kelakuan papanya, apa harus nanti anaknya juga harus mendapat perlakukan begitu dari F?" Mamanya diam. Tak bisa menjawab dan hanya tersenyum simpul.

Saya juga sempat bertanya, "Andaikan mama yang ada di posisi ku saat ini, apa yang mama lakukan?" Lagi-lagi mamanya hanya diam, terkekeh, tidak memberi jawaban. Ia hanya bilang "Pernikahan itu harus dipertahankan dan diperjuangkan meski berdarah-darah dan penuh airmata. Ingat, pernikahan itu tujuannya beribadah kepada Allah, jadi meskipun sedih, kecewa, tapi melayani suami itu kewajiban karena ibadah kepada Allah, berhubungan badan juga salah satu tindakan melayani suami, niatkan saja ibadah kepada Allah". Sampai disitu saya rasa pembicaraan ini baiknya disudahi saja karena kami sudah tidak sepaham. Kesimpulannya saya tetap kekeuh mau pisah rumah.




Ketika pisah rumah. Jujur aja saya bisa tidur lebih tenang, pikiran terasa lebih rileks dan hati pelan-pelan bisa healing. Saya juga pelan-pelan memaafkan diri sendiri. Mulai berdamai dengan masalalu. Menerima kesalahan yang sudah dibuat dan tidak menyesali keputusan-keputusan yang udah diambil. Yahh nggak dipungkiri, galau-galaunya sih tetep ada yaaa, tapi yang pasti sejak hari pertama pisah rumah saya sudah tidak pernah mimisan sekalipun. Meskipun setelahnya saya ada kurang tidur selama seminggu karena sibuk bikin persiapan ujian semester murid-murid dan saya capek banget karena penyesuaian tempat tinggal baru yang cukup jauh dari rumah murid-murid, tapi sampai detik saya menulis tulisan ini, belum pernah lagi sekalipun saya mimisan.

Sejak itu pula komunikasi kami makin menjadi minim. Sekalinya ada, tidak terasa seperti obrolan melainkan laporan harian saja. Sudah bangun, sudah makan, sudah berangkat, sudah sampai rumah, sudah siap tidur. Lama-lama intensitas laporan harian itu juga mulai berkurang. Saya mulai bosan dengan bentuk komunikasi semacam itu jadi saya yang lebih banyak tidak membalas. Ketika weekend kami masih kerap jalan bersama tapi lebih banyak diam dalam setiap pertemuan. Kalaupun ada momen tidak diam, pasti berdebat-berdebat tipis. Saya berusaha buka obrolan tapi ditanggapinya dengan nggak asik jadi obrolan nggak bisa ngalir. Emosi saya jadi gampang tersulut untuk kesalahan-kesalahan kecil. Seperti yang saya sudah tulis di atas, saya tidak lagi nyaman menerima belaian atau pelukan sehingga rasanya jadi lebih awkward lagi bagi kami berdua. F juga seringnya ajak saya pergi untuk ditraktir makan sama orangtuanya, atau ikut nonton bareng orangtuanya, padahal yang saya inginkan kita lebih banyak jalan berdua aja tanpa harus nebeng kesenangan dengan orangtuanya. Saya jadi sering cari-cari alasan sok sibuk untuk menghindari ajakan, padahal seringnya saya hanya di rumah selonjoran main PUBG atau nonton drama Korea. Semakin jauh.. semakin jauh.. semakin hambar.. semakin hambar.  Semakin bingung bagaimana memperbaikinya. Semakin malas lebih tepatnya. Saya nggak lagi mau berusaha dan hanya menunggu langkah dari pihak lawan. Tapi diseberang sana juga hanya diam, kaku dan santai, jadi saya makin bodo amat. Saya tau, dengan begini, sekarang yang jahat itu malah saya. Harusnya saya nggak seperti ini.

Sebulan setelah pisah rumah, F ngajak saya ketemuan untuk membahas kelanjutan hubungan ini. Pembicaraan saat pertemuan itu berlangsung sangat santai. Tidak ada intonasi keras. Sama-sama menjaga emosi. Langkah untuk bercerai memang saya yang pertama mengajukan, but surprisingly, F mengiyakan hal ini tanpa perlawanan. F hanya memastikan apakah saya sudah pikirkan keputusan ini matang-matang dan apakah saya sudah benar-benar yakin. Dia juga mau ketika nanti harus menjelaskan ke orang-orang, saya harus bilang kalau ini kemauan saya, bukan kemauan dia dan saya nggak boleh bilang dia egois atau nggak mengusahakan rumah tangga ini. Intinya he wants to put the blame on me. Agak lucu ya? Tapi ya sudahlah. Setelah itu dia baru ngomong panjang lebar tentang dia mau berubah mau lebih berusaha mau lebih punya semangat juang mau lebih baik. Tapi ketika saya tanya apa langkah yang pertama mau dilakukan untuk memulai itu semua, dia jawab belum tau. F menambahkan kalau dia sudah juga bicara dengan orangtua nya, menyuruh mereka menyiapkan hati karena dia sudah feeling hampir 100 persen kemungkinannya saya akan menceraikannya. Dia juga bilang sekarang penilaian saya terhadap orangtuanya pasti sudah kadung jelek karena masalah memanjakan anak. Keadaan sudah semakin complicated jadi yaudahlah, mending pisah aja sebelum terlanjur lebih panjang udah punya anak dan udah makin tua.



Saya bilang mau mulai urus perceraiannya setelah adiknya menikah saja pertengahan Februari nanti, jadi nanti di acara pernikahan itu saya dan dia bisa tetap hadir sebagai suami istri, saya tetap bisa pakai seragam keluarga dan ikut andil jika dibutuhkan dalam kepanitiaan. Like nothing's happen aja. Saya mikirin dia sebenernya, pasti nggak enak kan di hari bahagia adiknya, dia harus ditanya-tanyain masalah rumah tangga. Kasihan papa mamanya juga. Karena kan keluarga yang bukan inti nggak berkewajiban harus tau sekarang juga kan. Seiring berjalannya waktu juga bisa mereka pelan-pelan dikasih tau. Namun F mau sesegera mungkin perceraiannya diurus, nggak perlu nunggu selesai adiknya nikahan. Yasudah, saya pun mengiyakan. Kemudian, dia mulai menangis. Menangis tersedu lumayan lama tanpa berkata-kata. Saya hanya terdiam melihatnya menangis. Tidak berkata-kata, tidak berekspresi apa-apa. Hati saya tidak tergerak sedikitpun melihat dia meneteskan air mata. Sudah sehambar itu. Saya tidak bertanya kenapa F menangis dan diapun tidak menjelaskan kenapa dia menangis. Bingung sih, kenapa nangis kalau tadi di awal udah prediksi saya akan minta cerai. Bingung juga kenapa reaksinya begini sementara kemaren-kemaren nggak ada actionnya untuk mempertahankan. Setelah dia selesai menangis dan sudah cukup tenang, kamipun pulang.

Pas lagi malam tahun baru, saya sempat mampir tuh ke Pondok Indah Mall untuk beli bumbu barbekyu karena rencananya malam tahun baruan saya mau nginep di rumah mama saya untuk bakar daging. Nggak sengaja saya bertemu ibu dan ayah tiri F yang lagi makan di sebuah restoran. Bertegur sapa sebentar, kemudian mereka menanyakan kabar saya dan bagaimana kelanjutan saya dan F. Saya jelaskan hasil keputusan kami berdua dan orangtuanya masih meminta waktu ketemuan sekali lagi sama F juga. Saya bilang, kalau mau ketemu antara saya, F dan mama papa, ya sekalian ajak mama saya juga aja. Kan saya juga punya orangtua". Mereka setuju dan bilang akan mengatur waktu sesegera mungkin. Anehnya, sebelum sempat mengatur jadwal ketemuan kami dengan keluarga masing-masing, tanggal 1 Januari F datang ke rumah mama saya untuk pamitan ke mama dan Michelle. F minta maaf karena telah gagal mempertahankan rumah tangga dengan saya dan memberitahukan bahwa perceraian akan diurus secepatnya. Mama saya tetap menyambut F dengan baik dan menanggapi berita yang F sampaikan dengan sekalem mungkin. Kunjungannya ke rumah mama hanya sebentar, tak lebih dari 15 menit. Hanya untuk pamit saja.

Dua hari setelahnya, perasaan saya mendadak jadi nggak enak nggak karuan, seperti ada yang aneh terasa. Saya sering ngerasa begini tiap kali lagi diinget-inget orang jauh. Misalnya kaya ada sodara jauh tiba-tiba keinget saya, nah saya suka kerasa kaya gini.  Kemudian saya teringat seorang teman yang meningatkan saya, "Liv, lo udah solat berdoa sama Allah, tapi udah solat istikharah belum? Jangan sampai salah ambil langkah. Coba deh solat dulu sebelum ambil keputusan" Sayapun langsung solat istikharah saat teringat kata-kata teman saya itu. Setelah itu perasaan saya masih nggak enak, tapi saya bawa santai. Esok harinya, munculah niatan iseng untuk stalking Instagram F yang sebenernya masih ke-sync email dan passwordnya di aplikasi Instagram saya. Salah sih memang tindakan ini karena saya masuk ke privasi orang tanpa izin, but here's what I got.. Jreng jrenggg.. Saya menemukan chat-chat genit dia dengan wanita lain. Hahaha. Saya tinggal bawa ketawa aja. Nggak usah saya jabarkan lah ya isi chatnya apa. Yang jelas cukup bagi saya untuk memantapkan keputusan bahwa memang pisah adalah jalan yang harus diambil. Nggak nyangka sih hasil solat isthikarah saya dijawab secepat itu, tapi Alhamdulillah banget saya nggak harus nunggu lama-lama untuk memantapkan pilihan.



Tanpa menunggu orangtuanya mengatur waktu untuk pertemuan keluarga, saya langsung kontek ibunya untuk bertemu. Ibunya, ayahnya, bahkan orangtua tirinya juga saya minta ikut hadir karena saya mau menyampaikan keputusan final sekaligus pamitan. Bertemulah kami pada tanggal 5 Januari di sebuah restoran di daerah Panglima Polim. Dalam pertemuan itu saya ceritakan panjang lebar dari awal perihal akar masalah hingga buah masalahnya. Reaksi mereka sedih, terpukul, kecewa. Berusaha untuk memberi nasehat kepada kami dan berusaha meyakinkan kami untuk mengubah keputusan. Ketika saya bilang "Kan F juga sudah pamitan duluan dengan mama dan adikku", orang tua F kaget, karena selama ini mereka minta F datang ke rumah mama saya bukan untuk pamitan tapi untuk bersilaturahmi. Dalam pertemuan itu juga F menyetujui keputusan saya bercerai karena merasa sejak saya pisah rumah dengannya, hubungan ini terasa nggak bener. Mau sayang-sayangan nggak bisa, mau hubungan suami istri nggak bisa, komunikasi juga udah jarang banget. Dia bilang, karena ini udah konteksnya menikah, enggan rasanya kalau harus mengejar-ngejar cinta saya lagi seperti jaman pacaran. Lelah mengemis agar hubungan ini dipertahankan. Kalau masih mau ya ayo jalanin, kalau sudah nggak mau yasudah. Dia selama ini pasif karena juga sudah merasa hubungan ini sulit dipertahankan. F maunya berjuan kalau rasa cinta masih ada, kalau rasa cinta udah nggak ada dia malas untuk berjuang. Ketika saya bawa masalah chat dengan wanita lain di depan orangtuanya. Dia hanya diam saja tidak memberi komentar. Ok, baiklah. Jadi memang lebih tertantang untuk flirting sama wanita-wanita baru dibanding berjuang mempertahankan rumah tangga. Noted.

Mamanya F menangis. Papanya pun matanya memerah dan berkaca-kaca. Mamanya bilang, "Mama udah sayang sama Olive seperti anak sendiri tapi mama juga ngerti pasti ini berat untuk Olive. Semoga nanti dipersidangan, panitera bisa meyakinkan kalian berdua untuk tidak bercerai ya". Papanya juga minta maaf kepada mama saya atas kejadian ini. Papanya merasa sangat menyesal karena tidak mendidik F untuk bisa mandiri. Kedua orang tua tiri F pun terlihat berat hati menyaksikan peristiwa ini namun mereka tak bisa banyak bertindak karena merasa bukan ranahnya. Mama saya -yang semua orang tau adalah orang yang galak dan emosinya gampang tersulut- saat itu sangat tenang, banyak diam dan mendengar, tidak banyak berkomentar ketika diminta. Mama hanya mengatakan bahwa orang tua hanya pihak luar, tidak sepantasnya terlalu ikut campur, "Saya rasa saya sudah cukup menasehati Olive, meyakinkan dan bertanya tentang keputusannya. Olive sudah mantap dengan keputusan yang diambil dan saya tau dia orangnya keras dan tidak pernah main-main". Kami pun berpisah ketika semua permasalahan dirasa sudah tuntas dibahas. Perpisahan yang berjalan begitu mulus dan begitu menyisakan banyak rasa dalam hati masing-masing.

Saat saya merampungkan tulisan panjang ini, perceraian kami sedang dalam proses kelengkapan berkas. Sebentar lagi siap didaftarkan ke pengadilan Agama. Awalnya saya masih ngawang, masih ada sedikit rasa pilu dan nggak napak tanah, tapi sekarang sudah jauh lebih baik dan lebih tegar. Ada sih pasti kenangan-kenangan yang bikin mellow, tapi sampai saat ini masih merasa perceraian tetap menjadi keputusan terbaik, baik untuk saya maupun untuk dia. Terima kasih ya sudah meluangkan waktu membaca cerita panjang ini. Semoga minus mata nggak langsung nambah ya abis baca tulisan saya. Untuk semua orang yang selama ini memberi support, memberi nasehat, memberi hiburan di saat -saat yang berat, atau yang bahkan sekedar mengingatkan jangan lupa makan, terima kasih banyak ya. Semua itu berarti banget. Membuat saya sadar kalau masih banyak orang-orang yang akan merangkul saya ketika kehilangan satu orang yang saya pikir udah jadi dunianya saya. Awal tahun 2020 adalah masa yang berat. Tapi saya yakin setelah ini akan banyak tulisan-tulisan bahagia yang bisa saya bagikan di tahun ini. Aamiin.. Have a good day, everyone. See you in my next post.


No comments:

Post a Comment