Hello again !! Kembali bersama saya di cerita panjang bagian kedua.
Kemarin sudah sampai di mana ya ceritanya? Oh iya untuk yang belum baca bagian pertamanya, bisa tengok di sini ya.
Cerita kali ini akan diawali dengan sedikit flashback tentang yang terjadi di hari Minggu, 5 Januari 2020.
Jadi inti dari pembahasan panjang nan lebar ini adalah saya kepengen cerita kalau pernikahan saya yang masih seumur jagung, harus berakhir lebih cepat dari yang sempat dibayangkan. Hehe, kaget ya bacanya? Sama. Saya juga masih antara sadar dan mimpi kalau sebentar lagi harus jadi janda.
Saya sengaja nggak langsung update cerita ini sejak masalah baru muncul di permukaan karena banyak pertimbangan. Saya ingin hasil tulisan ini tidak berakhir dengan terlalu menyudutkan F. Biar gimana, masalah dalam rumah tangga ini bukan sepenuhnya salah dia tapi kesalahan berdua. Meski begitu, rasanya agak sulit ya menulis cerita macam begini dengan pandangan yang objektif. Tetap aja tulisan ini jadinya berakhir dengan sangat subjektif setelah saya melihat hasil tulisan part pertama kemarin itu. Tulisan yang sekarang juga pasti bakalan sama subjektifnya. Pertimbangan lain adalah saya tuh maunya menulis cerita ini ketika memang udah bener-bener fix akan bercerai, bukan ketika baru niat atau baru ribut-ribut aja. Honestly, deep down inside, meski hanya tersisa sayup-sayup di dasar hati, saya ingin pernikahan ini tidak berakhir. Setidaknya tidak secepat ini lah. Tapi kali ini saya bisa pastikan sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali dan kesempatan dia memperbaiki semuanya juga sudah habis.
Di bagian pertama cerita memang saya nulis kalau saya mau membenahi kembali apa yang salah kemarin-kemarin. Saya pulang lagi ke rumah, tinggal lagi sama F setelah dia menyetujui tanda tangan surat di atas materai. Namun yang ternyata terjadi adalah hati saya berontak. Tak disangka-sangka, sejak saya melangkahkan kaki meninggalkan F malam itu, saya juga meninggalkan semua rasa saya untuk dia. Ketika kembali pulang, semua benar-benar berbeda. Bukan hanya tentang rasa aman, tapi juga rasa cinta, sayang, nyaman, dan rasa ingin memiliki. Kalau istilah anak jaman sekarang tuh ilfil. Saya jadi ilfil sama suami sendiri. Ditambah lagi saya jadi susah tidur sejak hari pertama kembali ke rumah. Saya sering tiba-tiba nangis sendiri padahal lagi nggak ada apa-apa. Saya nggak nafsu makan. Saya merasa seperti orang patah hati padahal saya bukan abis putus cinta. Dan puncaknya saya sering pusing dan hampir setiap hari mimisan. Sudah ke dokter tapi dokter bilang tidak ada kelainan apa-apa, saya hanya kelelahan dan stress.
Hari demi hari saya coba jalani. Batin saya seolah terpecah menjadi dua kubu yang saling tengkar. Di satu sisi saya berusaha untuk lekas sembuh dari trauma dan sedih akibat kejadian tempo hari itu. Saya nggak boleh dong berlama-lama gloomy gini, karena kasihan F. Situasi ini akan terasa nggak adil baginya karena saya sudah buang kata untuk kembali ya harusnya saya komit kan. Harus kembali biasa-biasa aja, bahagia lagi, sayang-sayangan lagi sama F. Sisi lainnya hati saya nggak terima dipaksa-paksa. Saya lelah harus memalsukan setiap tindakan afeksi bahkan sesimpel bilang I love you. Pelukan, ciuman, belaian, bahkan hubungan suami istripun semua rasanya hambar dan tidak lagi nyaman untuk diberikan maupun diterima. Rumah tidak lagi terasa rumah. Jadwal mengajar sengaja saya penuhin sampai jam 11 malam agar ketika pulang sudah lelah dan langsung tidur. Biasanya saya paling senang kalau ada cancel class dan bisa pulang lebih cepat tapi sekarang kalau bisa pulang cepat saya milih ke rumah mama saya dulu untuk ngobrol-ngobrol lalu pulang ketika sudah nyaris jam 12 malam. Dua sisi hati yang terus mau dimenangkan itu bikin saya lelah. Saya merasa seperti depresi tapi nggak tau pasti juga gejala depresi yang sesungguhnya itu kaya gimana jadi nggak berani claim kalau saya mengalami depresi.
Saya akhirnya berterus terang kepada F tentang apa yang saya rasakan. Saya jujur bahwa saat itu saya merasa muak, mumet, hambar dan segala perasaan saya lainnya. Saya bilang kalau saya stress dan saya butuh cara untuk bisa menenangkan diri. Ini kan tentang rumah tangga, saya merasa dia harus tau karena kami harus cari solusinya berdua. Jawaban yang saya terima darinya adalah... "Aku ngerti apa yang kamu rasakan. Yang bisa membolak balik hati manusia itu cuma Allah. Aku hanya bisa tetap menjadi seperti aku apa adanya, jadi suatu saat kalau hatimu udah kembali lagi seperti dulu, aku masih seperti aku yang kamu kenal dan kamu cintai" WTF. What kind of anwer is that? Setelah mendapat jawaban itu, sehari semalem saya nggak berhenti menangis. Saya kecewa berat. Secara nggak langsung saya menangkap maknanya kalau dia maunya saya sembuh sendiri dan kembali ketika semua sudah bisa diatasi. Saya jadi semakin stress dan mulai nyalahin diri sendiri, menyesali keputusan menikah, membodoh-bodohi diri sendiri kenapa pililh pasangan seperti ini, nyesel udah terlalu cinta, nyesel terlalu positif thinking sama laki-laki, pokoknya nyesel, nge-blame, maki-maki diri sendiri, nyalahin diri sendiri, sampai akhirnya makin terpuruk sendiri.
Suatu hari papanya telepon saya. Kira-kira isi pembicaraannya begini : "Olive, F kapan sih terakhir kerja di RCTI?", "Kontraknya habis tanggal 31 Desember pah", "Terus kapan terakhir terima gajinya?", "Aku kurang tau pasti pah, tapi tanggal gajian sebelum-sebelumnya sih setiap tanggal 25" "Iya nih, papa belum dapet juga kerjaan untuk F. Papa udah minta ke temen-temen papa tapi belum ada jawaban. Yaudah nanti kalau Januari F belum dapet kerjaan nanti papa bantu dulu transfer deh 5 juta seperti gajinya di RCTI tiap bulan. Jadi Olive nggak usah khawatir" Mendengar papanya bilang begitu, justru saya malahan yang jadi khawatir. Kenapa harus dibantu? Kan F udah jadi kepala rumah tangga. Kenapa masih harus dinafkahi orang tuanya? Kenapa orang tuanya nggak ngajarin dia mandiri? Lalu saya bilang ke F soal pembicaraan saya di telepon itu dengan papanya dengan maksud supaya F bicara sama papanya nggak usah begitu. Reaksi F malahan santai banget, "Yaudah, kan bagus dong papa mau bantu?"
Akhirnya dapet sih kerjaan baru hasil koneksi dari papanya. Namun divisi yang membutuhkan pegawai adalah divisi yang jobdesknya dia tidak sukai. Mirip-mirip seperti di RCTI, pekerjaan yang butuh pencapaian target. Udah ya saya nggak usah ceritain apa yang selanjutnya dia request ke papanya ketika dia merasa nggak sreg sama kerjaannya. Nanti yang baca jadi kesel.
Awalnya tuh sekitar akhir November memang kami udah berencana pindah berdua ke apartemen daerah Tangerang Selatan yang bisa ditempati karena saya bekerja di sebuah kantor as a freelancer. Apartemen itu bisa kami tempati tanpa bayar sewa, hanya bayar service charge dan listrik air sesuai pemakaian saja. Akhirnya plan berubah jadi saya pindah sendiri ke sana dan saya minta dia kembali ke rumah orangtuanya. Saya bilang sebaiknya kami berdua mikir dulu sendiri-sendiri. What went wrong, how was our feeling and how to fix all of these. Bisa aja setelah kami pisah rumah, saya jadi mikir kalau ternyata saya nggak bisa kehilangan dia dan saya masih ada rasa cinta untuk dibina. Atau sebaliknya bisa aja setelah pisah rumah F jadi berpikir kalau sebenarnya memang dia belum siap jadi kepala rumah tangga. Tentu keputusan ini tidak diterima dengan mudah oleh F, ada lagi cek-cok nya, tapi saya berkeras mau pisah rumah, karena kalau tetap dalam kondisi seperti ini, saya udah nggak kuat lagi. F akhirnya mengalah dan ikut apa mau saya. Berat hati pastinya, saya tau.
Dua hari sebelum rencana kepindahan saya, mamanya F minta waktu untuk ketemuan. Mamanya sudah dengar tentang keinginan pisah rumah yang saya ajukan ke F dan mamanya berusaha membujuk saya untuk mengurungkan niat itu. Awalnya ia mengingatkan bahwa dosa besar ketika istri meninggalkan suami dan karena kita nggak pernah tau kapan akan meninggal, jangan sampai nanti saya meninggal dalam keadaan memikul dosa besar. Lalu saya coba jelaskan apa yang terjadi dan apa yang jadi pemicu saya mengambil keputusan ini. Mamanya paham dengan apa yang saya rasakan karena mamanya bilang sifat dan kelakuan F sangat mirip dengan kelakuan papanya. Mamanya bilang, "F itu mirip skali dengan kelakukan papanya. Flat aja gitu. Tidak aktif. Ibarat di sekolah, F tuh murid yang dari dulu cuma bisa dapat nilai 7 di ulangan dan tugas-tugas. F tipikal anak yang nggak bisa dikasih target, nggak bisa dituntut kerja dengan kreatifitas dan skill, dia hanya bisa disuruh A yang dikerjakan A, kalau disuruh B ya dikerjakan B. Mungkin di RCTI dia nggak survive karena di sana dibutuhkannya orang-orang yang nilainya 9. Nah Olive nih mama liat anaknya yang udah sering dapat nilai 9, mau maksain F untuk bisa naik nilainya minimal 8 aja udah susah banget, mau nggak mau Olive yang harus menurunkan ekspektasi dan lebih banyak mengalah". Kemudian saya bilang ke mamanya "Yah ma, kalau nggak bisa dikasih target, gimana ya ma, hidup aja kan perlu target. Berarti sama aja mama bilang saya harus terima hidup sama F hanya jalan di tempat dong. Punya anak kan juga target, mendapatkan penghidupan yang lebih baik juga target". Mamanya hanya menjawab, "Ya F emang gitu orangnya. Take it or leave it".
Saya bertanya bagaimana selama ini kedekatan papanya dengan F
karena saya lihat sepertinya F tidak punya figur bapak, atau figur laki-laki
yang jadi panutan. Sebagai laki-laki F terlalu lembut dan kurang semangat
juang. F juga pernah cerita dia kurang nyaman berteman sama laki-laki karena
nggak cocok gaya bercanda dan pembahasannya. Mamanya bercerita kalau memang
papanya selama ini tidak dekat dengan anak-anaknya. Papanya selalu beralasan
sudah lelah bekerja sampai malam jadi tidak merasa perlu andil lagi dalam
mengurus, mendidik dan memberi perhatian kepada anak. Tiap kali mamanya
menuntut papanya untuk ikut andil dalam mengurus anak atau sekedar memberi
perhatian lebih seperti pelukan atau menanyakan kabar, hal ini selalu dianggap
oleh papanya sebagai alasan karena uang bulanan kurang. Mendengar hal itu, saya
bilang ke mamanya, "Lalu kalau F mirip dengan kelakuan papanya, apa harus
nanti anaknya juga harus mendapat perlakukan begitu dari F?" Mamanya diam.
Tak bisa menjawab dan hanya tersenyum simpul.
Saya juga sempat bertanya, "Andaikan mama yang ada di
posisi ku saat ini, apa yang mama lakukan?" Lagi-lagi mamanya hanya diam,
terkekeh, tidak memberi jawaban. Ia hanya bilang "Pernikahan itu harus
dipertahankan dan diperjuangkan meski berdarah-darah dan penuh airmata. Ingat,
pernikahan itu tujuannya beribadah kepada Allah, jadi meskipun sedih, kecewa,
tapi melayani suami itu kewajiban karena ibadah kepada Allah, berhubungan badan
juga salah satu tindakan melayani suami, niatkan saja ibadah kepada
Allah". Sampai disitu saya rasa pembicaraan ini baiknya disudahi saja
karena kami sudah tidak sepaham. Kesimpulannya saya tetap kekeuh mau pisah
rumah.
Ketika pisah rumah. Jujur aja saya
bisa tidur lebih tenang, pikiran terasa lebih rileks dan hati pelan-pelan bisa
healing. Saya juga pelan-pelan memaafkan diri sendiri. Mulai berdamai dengan
masalalu. Menerima kesalahan yang sudah dibuat dan tidak menyesali
keputusan-keputusan yang udah diambil. Yahh nggak dipungkiri, galau-galaunya
sih tetep ada yaaa, tapi yang pasti sejak hari pertama pisah rumah saya sudah
tidak pernah mimisan sekalipun. Meskipun setelahnya saya ada kurang tidur
selama seminggu karena sibuk bikin persiapan ujian semester murid-murid dan
saya capek banget karena penyesuaian tempat tinggal baru yang cukup jauh dari
rumah murid-murid, tapi sampai detik saya menulis tulisan ini, belum pernah
lagi sekalipun saya mimisan.
Sejak itu pula komunikasi kami makin menjadi minim. Sekalinya ada, tidak terasa
seperti obrolan melainkan laporan harian saja. Sudah bangun, sudah makan, sudah
berangkat, sudah sampai rumah, sudah siap tidur. Lama-lama intensitas laporan
harian itu juga mulai berkurang. Saya mulai bosan dengan bentuk komunikasi
semacam itu jadi saya yang lebih banyak tidak membalas. Ketika weekend kami
masih kerap jalan bersama tapi lebih banyak diam dalam setiap pertemuan.
Kalaupun ada momen tidak diam, pasti berdebat-berdebat tipis. Saya berusaha
buka obrolan tapi ditanggapinya dengan nggak asik jadi obrolan nggak bisa
ngalir. Emosi saya jadi gampang tersulut untuk kesalahan-kesalahan kecil.
Seperti yang saya sudah tulis di atas, saya tidak lagi nyaman menerima belaian
atau pelukan sehingga rasanya jadi lebih awkward lagi bagi kami berdua. F juga
seringnya ajak saya pergi untuk ditraktir makan sama orangtuanya, atau ikut
nonton bareng orangtuanya, padahal yang saya inginkan kita lebih banyak jalan
berdua aja tanpa harus nebeng kesenangan dengan orangtuanya. Saya jadi sering
cari-cari alasan sok sibuk untuk menghindari ajakan, padahal seringnya saya
hanya di rumah selonjoran main PUBG atau nonton drama Korea. Semakin jauh..
semakin jauh.. semakin hambar.. semakin hambar. Semakin bingung bagaimana
memperbaikinya. Semakin malas lebih tepatnya. Saya nggak lagi mau berusaha dan
hanya menunggu langkah dari pihak lawan. Tapi diseberang sana juga hanya diam,
kaku dan santai, jadi saya makin bodo amat. Saya tau, dengan begini, sekarang
yang jahat itu malah saya. Harusnya saya nggak seperti ini.
Sebulan setelah pisah rumah, F ngajak saya ketemuan untuk membahas kelanjutan
hubungan ini. Pembicaraan saat pertemuan itu berlangsung sangat santai. Tidak
ada intonasi keras. Sama-sama menjaga emosi. Langkah untuk bercerai memang
saya yang pertama mengajukan, but surprisingly, F mengiyakan hal ini tanpa
perlawanan. F hanya memastikan apakah saya sudah pikirkan keputusan ini
matang-matang dan apakah saya sudah benar-benar yakin. Dia juga mau ketika
nanti harus menjelaskan ke orang-orang, saya harus bilang kalau ini kemauan
saya, bukan kemauan dia dan saya nggak boleh bilang dia egois atau nggak
mengusahakan rumah tangga ini. Intinya he wants to put the blame on me. Agak
lucu ya? Tapi ya sudahlah. Setelah itu dia baru ngomong panjang lebar tentang
dia mau berubah mau lebih berusaha mau lebih punya semangat juang mau lebih
baik. Tapi ketika saya tanya apa langkah yang pertama mau dilakukan untuk
memulai itu semua, dia jawab belum tau. F menambahkan kalau dia sudah juga
bicara dengan orangtua nya, menyuruh mereka menyiapkan hati karena dia sudah
feeling hampir 100 persen kemungkinannya saya akan menceraikannya. Dia juga
bilang sekarang penilaian saya terhadap orangtuanya pasti sudah kadung jelek
karena masalah memanjakan anak. Keadaan sudah semakin complicated jadi
yaudahlah, mending pisah aja sebelum terlanjur lebih panjang udah punya anak
dan udah makin tua.
Saya bilang mau mulai urus
perceraiannya setelah adiknya menikah saja pertengahan Februari nanti, jadi
nanti di acara pernikahan itu saya dan dia bisa tetap hadir sebagai suami
istri, saya tetap bisa pakai seragam keluarga dan ikut andil jika dibutuhkan
dalam kepanitiaan. Like nothing's happen aja. Saya mikirin dia sebenernya,
pasti nggak enak kan di hari bahagia adiknya, dia harus ditanya-tanyain masalah
rumah tangga. Kasihan papa mamanya juga. Karena kan keluarga yang bukan inti
nggak berkewajiban harus tau sekarang juga kan. Seiring berjalannya waktu juga
bisa mereka pelan-pelan dikasih tau. Namun F mau sesegera mungkin perceraiannya
diurus, nggak perlu nunggu selesai adiknya nikahan. Yasudah, saya pun
mengiyakan. Kemudian, dia mulai menangis. Menangis tersedu lumayan lama tanpa
berkata-kata. Saya hanya terdiam melihatnya menangis. Tidak berkata-kata, tidak
berekspresi apa-apa. Hati saya tidak tergerak sedikitpun melihat dia meneteskan
air mata. Sudah sehambar itu. Saya tidak bertanya kenapa F menangis dan diapun
tidak menjelaskan kenapa dia menangis. Bingung sih, kenapa nangis kalau tadi di
awal udah prediksi saya akan minta cerai. Bingung juga kenapa reaksinya begini
sementara kemaren-kemaren nggak ada actionnya untuk mempertahankan. Setelah dia
selesai menangis dan sudah cukup tenang, kamipun pulang.
Pas lagi malam tahun baru, saya sempat mampir tuh ke Pondok Indah Mall untuk
beli bumbu barbekyu karena rencananya malam tahun baruan saya mau nginep di
rumah mama saya untuk bakar daging. Nggak sengaja saya bertemu ibu dan ayah
tiri F yang lagi makan di sebuah restoran. Bertegur sapa sebentar, kemudian
mereka menanyakan kabar saya dan bagaimana kelanjutan saya dan F. Saya jelaskan
hasil keputusan kami berdua dan orangtuanya masih meminta waktu ketemuan sekali
lagi sama F juga. Saya bilang, kalau mau ketemu antara saya, F dan mama papa,
ya sekalian ajak mama saya juga aja. Kan saya juga punya orangtua". Mereka
setuju dan bilang akan mengatur waktu sesegera mungkin. Anehnya, sebelum sempat
mengatur jadwal ketemuan kami dengan keluarga masing-masing, tanggal 1 Januari F
datang ke rumah mama saya untuk pamitan ke mama dan Michelle. F minta maaf
karena telah gagal mempertahankan rumah tangga dengan saya dan memberitahukan
bahwa perceraian akan diurus secepatnya. Mama saya tetap menyambut F dengan
baik dan menanggapi berita yang F sampaikan dengan sekalem mungkin.
Kunjungannya ke rumah mama hanya sebentar, tak lebih dari 15 menit. Hanya untuk
pamit saja.
Dua hari setelahnya, perasaan saya mendadak jadi nggak enak nggak karuan,
seperti ada yang aneh terasa. Saya sering ngerasa begini tiap kali lagi
diinget-inget orang jauh. Misalnya kaya ada sodara jauh tiba-tiba keinget saya,
nah saya suka kerasa kaya gini. Kemudian saya teringat seorang teman yang
meningatkan saya, "Liv, lo udah solat berdoa sama Allah, tapi udah solat
istikharah belum? Jangan sampai salah ambil langkah. Coba deh solat dulu
sebelum ambil keputusan" Sayapun langsung solat istikharah saat teringat
kata-kata teman saya itu. Setelah itu perasaan saya masih nggak enak, tapi saya
bawa santai. Esok harinya, munculah niatan iseng untuk stalking Instagram F
yang sebenernya masih ke-sync email dan passwordnya di aplikasi Instagram saya.
Salah sih memang tindakan ini karena saya masuk ke privasi orang tanpa izin,
but here's what I got.. Jreng jrenggg.. Saya menemukan chat-chat genit dia
dengan wanita lain. Hahaha. Saya tinggal bawa ketawa aja. Nggak usah saya
jabarkan lah ya isi chatnya apa. Yang jelas cukup bagi saya untuk memantapkan
keputusan bahwa memang pisah adalah jalan yang harus diambil. Nggak nyangka sih
hasil solat isthikarah saya dijawab secepat itu, tapi Alhamdulillah banget saya
nggak harus nunggu lama-lama untuk memantapkan pilihan.


No comments:
Post a Comment